Makan Nasi Padang ala Meksiko, Alas Daun Pisang Diganti Kulit Tortilla
June 8, 2021
Kemenparekraf Siapkan Paket Wisata Vaksin Dosis Lengkap untuk Wisatawan Domestik
June 9, 2021

Suaramerdeka.com / Nugroho Wahyu Utomo/ 9 Juni 2021, 06:55 WIB

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com – Lebih dari satu tahun pandemi Covid-19 mendera, kini perlahan roda pariwisata mulai bergerak.

Objek wisata di banyak daerah sudah dibuka.

Sekalipun angka kunjungan belum kembali normal, namun setidaknya bisa memberi secerah harapan bagi pelaku wisata.

Insan pariwisata di DIY tidak luput menangkap peluang itu.

Kekinian, stakeholder di provinsi ini menawarkan konsep travel koridor untuk mewadahi hasrat para pecinta travelling di masa pandemi.

“Sudah setahun kita berjalan dengan autopilot, seolah wisatawan jalan sendiri tanpa ada yang menghandle padahal resikonya cukup besar. Sehingga kita berpikir untuk menggerakkan ekosistem wisata itu sendiri,” kata Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) DIY Singgih Raharjo saat acara diskusi terbatas hasil penyelenggaraan Badan Otorita Borobudur (BOB) di Pendopo Ageng Grand Rohan Jogja, Selasa, 8 Juni 2021.

Kehadiran travel koridor ini diharapkan mampu merangkul seluruh komponen pelaku wisata.

Nantinya akan disediakan paket wisata dengan persyaratan khusus yang tetap berada di dalam koridor kesehatan.

Banyak hal yang bisa menjadi acuan semisal protokol kesehatan, pranata anyar, dan CHSE (cleanliness, health, safety, environment).

“Travel koridor ini bentuknya paket, dan wisatawannya khusus dengan jumlah dibatasi maksimal hanya 10 orang. Semua prosesnya teregistrasi, tidak berjalan sendiri-sendiri melainkan dipandu biro perjalanan,” terang Singgih.

Hal yang berhubungan dengan mitigasi pun telah dirancang matang.

Misalnya jika destinasi yang hendak dituju tiba-tiba dinyatakan zona merah, maka akan dialihkan ke objek lain yang masuk zona hijau.

Untuk memastikan mitigasi berjalan dengan baik, pengelola paket wisata dapat bekerja sama dengan pihak yang berkompeten seperti Dinas Kesehatan (Dinkes).

Di tempat wisata juga diusulkan penempatan alat deteksi Covid-19, GeNose untuk skrining wisatawan dan pengelola destinasi.

“Syarat lain, semua pelaku wisata dipastikan harus sudah divaksin. Akomodasi minimal terverifikasi Satgas Covid-19 tingkat kabupaten/kota, dan berada di zona hijau,” ucapnya.

Travel koridor bukan berarti mengundang wisatawan untuk tumplek blek di Yogyakarta. Alih-alih di tengah era pandemi, wajah pariwisata kini berubah dari mass tourism menjadi quality tourism.

Travel koridor adalah hanyalah sebuah sarana pemanasan agar wisata bisa kembali berjalan.

Sebagai awalan, sasarannya adalah kalangan ASN. Dalam satu bulan disiapkan sekitar 10 hingga 20 paket wisata.

Ditargetkan, program ini bisa berjalan dalam waktu dekat dengan disokong aplikasi Visiting Jogja.

Beberapa komponen yang terlibat antara lain pelaku industri pariwisata, dan wisatawan yang sementara difokuskan untuk lokal.

Selain itu akan disiapkan tempat karantina untuk antisipasi jika mendadak ada wisatawan yang sakit atau terdeteksi terinfeksi Covid-19.

“Trial pertama sudah kami lakukan sebelum puasa. Banyak masukan baik dari sisi penjadwalan waktu dan moda transportasi,” ungkap Singgih.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinkes DIY Pembajun Setyaningastutie menyatakan apresiasi atas program ini.

Namun dia berpesan agar prokes tetap dijalankan walaupun sudah mendapatkan vaksin.

“Dua kali vaksin tidak artinya prokes menjadi kendor. Standar operasional prosedur yang sudah dibuat juga selalu dimonitor,” pesannya.

Sementara itu, Direktur Utama BOB, Indah Juanita mengatakan, kegiatan diskusi ini bertujuan agar sektor pariwisata bisa tumbuh dan berkembang lagi.

“Diskusi semacam ini rencananya akan kembali kami gelar. Ada beberapa tema yang disiapkan seperti soal penyelenggaraan dan pengamanan event atau gagasan lain yang bisa mendukung pariwisata,” ujarnya.

Artikel Asli : https://www.suaramerdeka.com/gaya-hidup/pr-04173056/wisata-kala-pandemi-jogja-suguhkan-travel-koridor?page=all

logo
Hubungi Kami