Warkop NYC: Ekspansi Budaya Nongkrong dan Ngopi di Warung Indonesia ke Amerika

Catat! Ini Daftar Event Pariwisata Unggulan di Kalbar Selama 2022
March 10, 2022
MotoGP Mandalika Buka Peluang Pariwisata Indonesia Mendunia, Erick Thohir: Ini Acara Kita Semua
March 10, 2022

Kumparan.com / kumparanFOOD/ 10 Maret 2022, 13:52 WIB

Selain warteg, makan di  sudah menjadi salah satu budaya bersantap masyarakat Indonesia. Menunya memang sederhana saja, biasanya hanya ada mi instan, aneka bubur manis, atau roti bakar. Tapi setidaknya sudah cukup untuk menyelamatkan perut yang lapar, dan kantong tipis.

Di Indonesia kemunculan warkop sudah menjamur sejak lama, berada hampir di setiap pojok jalanan. Budaya makan di warkop ini rupanya juga menjadi pengalaman berkesan yang turut menginspirasi tiga pemuda Indonesia; yakni Omar Kamir Prawiranegara, Teguh Chandra, dan Cut Lakeisha Salsabila untuk membawanya jauh ke negeri Paman Sam.

Salah satu founder-nya yang kerap disapa Omar mengatakan kepada kumparanFOOD (9/3), bahwa warkop merupakan sebuah kebudayaan makan yang punya potensi sebagai akses untuk dunia semakin mengenal budaya kuliner masyarakat Indonesia. Berbagai tantangan dan riset pun dilakukan Omar serta Teguh sebelum akhirnya memutuskan untuk membawa konsep warkop ke .

Tepat seminggu yang lalu, pada 3 Maret 2022 warung makan yang diberi nama Warkop NYC itu buka di 366 West 52nd Street, New York. Pembukaan warkop di Amerika ini pun menjadi sorotan bagi masyarakat Indonesia yang turut merasa bangga.

Warkop yang sudah menjadi tempat nongkrong ikonik di Indonesia kini hadir di New York City. Hal ini pun dibagikan dalam instagram @pesona.indonesia dengan caption bertuliskan “Wah, Sobat Pesona yang sedang di Amerika Serikat dan rindu nongki di warung kopi, cuss merapat! Makin #BanggaBuatanIndonesia, warkop makin mendunia!”

Untuk mengetahui kisah di balik berdirinya warkop NYC ini pun kami melakukan wawancara eksklusif dengan Omar Karim. Penasaran seperti apa langkah-langkahnya dalam membangun bisnis warkop di Amerika? Yuk, simak selengkapnya percakapan kami dengan Omar berikut ini:

Apa yang menjadi inspirasi saat membuka warkop di NY, dan mengapa memilih warkop?

Indonesia banyak sekali makanannya, jadi kita merasa butuh sesuatu yang mudah untuk dicerna dulu oleh warga negara asing. Jadi, kita melihat selama pandemi di Jakarta aku ngeriset di Indonesia, oh ini ada satu kebudayaan kita yang sebenarnya makanannya sudah cukup mendunia kayak Indomie. Siapa yang enggak tahu indomie di negara lain? Kita merasa punya potensi untuk bisa menjadi akses masuk mengenal budaya (Indonesia) lainnya.

Lantas mengapa kita memilih New York? Karena kita merasa warkop merupakan “everyday place” untuk semua orang di Indonesia cocok dengan karakter kota New York yang juga punya fast pace tersebut. New York juga cocok untuk jadi melting spot buat brand fashion maupun makanan, karena bisa dapat exposure yang tinggi dan ini terbukti dengan dibukanya warkop di New York, walaupun masih di media Indonesia alhamdulillahnya langsung naik. (Ini) jadi bentuk narasi positif buat kita bisa membawa ini ke pasar US.

Dan, aku sendiri sama teman-teman di sini sebenarnya ingin membawa compete-nya bukan dengan makanan Indonesia lainnya, tapi let say dengan pizza New York; yang harganya enggak beda jauh dengan single Indomie yang kita bikin yakni 3 dolar AS. Orang-orang di New York ini kan (gaya hidupnya) cepat dan biaya hidupnya mahal kita pengin jadiin warkop ini quick meal-nya mereka (masyarakat Amerika), harganya juga affordable buat UMR sini (NY) bahkan.

Lantas, apa misi dari Warkop NYC ini?

Warkop NYC tidak hanya sekadar memiliki misi sebagai (bisnis) food and beverage (F&B) saja, bukan hanya makanan dan minuman, doang, tapi ingin juga menjadi hub-nya dari pop culture Indonesia di Amerika. Menurut aku enggak pengin Indonesia hanya dikenal dengan batik, wayang, atau gamelannya saja. Tapi kita (sebenarnya) masih punya karya anak muda Indonesia lainnya dari sisi kreatif yang bisa dijual. Contohnya foto-foto yang kami tampilkan di Warkop NYC ini merupakan karya teman-teman kita di Jakarta, ada Renda Rais dan Andra. Ada kita dibikinin juga sepatu dari merek lokal Kompas yang juga sudah mendunia.

Kita Warkop NYC membuka diri untuk berkolaborasi dan menjadi tempat untuk anak muda Indonesia yang ingin menuangkan ide-ide kreatifnya. Supaya ketika mereka datang ke ke warkop, bahasannya bisa benar-benar kayak di warkop saja gitu, bisa ngebahas seni, musik, kemarin juga ada mas Pandji stand up comedy Indonesia yang lagi ngerintis karier di New York. Hal hal itu yang kita coba dorong, jadi definisi warkopnya bisa secara holistik dirasain experience-nya di US.

Adakah kesulitan atau kendala ketika hendak membuka usaha warkop di NY?

Kesulitan itu waktu awal saja ketika mencari tempat yang strategis, karena ingin di tengah dan tidak jauh dari pusat kota supaya bisa jadi point of interest; seperti kita enggak jauh dari Town Square dan Central Park yang mana menjadi ikon-ikon pariwisata di New York. Kita juga memperhatikan dari sisi bisnis supaya sustain, di mana hal ini juga memperhatikan sisi turis asing dan lokal yang tinggal di sekitar kota (supaya lebih terjamah).

Selain itu, perizinan juga tak semudah di Indonesia di mana menjadi kendala seperti food health inspection yang memakan waktu cukup lama. Untungnya, Teguh benar-benar mengurus masalah perizinan ini dari A-Znya. Peran dia cukup besar di sana, dari warkop nol sampai bisa go life saat itu.

Apa perbedaan Warkop NYC dengan warkop-warkop di Indonesia?

Sebenarnya untuk makanan yang disajikan, mostly hampir 70 persen yang ada di Indonesia, ada di sini. Cuma banyak juga pertanyaan di linimasa, kenapa kita enggak pakai mangkuk ayam? Sebenarnya kita sudah ada mangkuk ayamnya namun belum dipakai. Ditambah lagi saat ini aku masih bekerja berdua sama Teguh, partner aku jadi kita memutuskan menggunakan kemasan sekali buang supaya praktis dari segi tenaga kerja. Mungkin nanti kalau sudah sustain kita pakai mangkuk ayam biar mirip dengan (warkop) di Jakarta dan bisa dicuci dengan cepat.

Bagaimana tanggapan atau kesan pelanggan/masyarakat Amerika yang mengunjungi warkop NYC?

Tanggapan warga Amerika yang belum pernah ngerasain indomie itu langsung tersihir oleh rasa  yang kita sajikan. Karena ada anekdot di Jakarta, kalo ‘Indomie yang bikinan mamang-mamang’ tuh jauh lebih enak daripada Indomie di rumah. Dan, ternyata di sini diamini oleh para pengunjung, bahkan orang Indonesia di sini yang bisa bikin Indomie sendiri di rumah pun mengiyakan itu. Ditambah banyak dari mahasiswa dan diaspora Indonesia di sini bawa teman-teman mereka yang bule-bule mereka sangat suka. Terlebih mereka yang berasal dari benua Asia yang sudah familiar dengan rasa mi instan ini

Yang lucunya lagi, Warkop NYC menjadi meeting point mereka karena lokasinya yang strategis tadi. Secara overall, sih seminggu ini kita cukup happy diterima dengan baik dan hangat oleh masyarakat Indonesia di sini dan warga lokal, serta beberapa pejabat Indonesia di sini. Selebriti Indonesia juga ada yang datang. Side effect lainnya banyak pengusaha warkop Indonesia banyak yang nge-tag akun Warkop NYC mereka merasa bangga, mungkin karena ada perwakilan warkop di internasional, buat mereka bangga jadi pengusaha warkop.

Ada juga yang DM ke kita bilang kalo usaha warkop mereka jadi ramai lagi, dan bagi kita, wah ada tren baru untuk nongkrong balik ke warkop. Nah itu, juga merupakan salah satu cita-cita kita yang secara eksplisit, mudah-mudahan dengan adanya warkop di sini bisa membawa efek yang lebih bagus buat teman-teman warkop di Jakarta atau Indonesia, lainnya.

Menu makanan dan minuman apa saja yang dijual di Warkop NYC?

Selayaknya warkop yang menjual mi instan, kita juga tertolong dengan Indomie yang kenikmatannya sudah diakui juga oleh dunia, terlebih baru saja mendapat penghargaan dari New York Magazine sebagai salah satu the best instant noodles tahun lalu.

Kemudian, di warkop NYC ini tidak hanya menjual Indomie, kami juga ada roti bakar, bakwan, gorengan, kacang Garuda, Beng-beng, Teh Kotak, kerupuk putih, kecap, saus sambal, bahkan sendal jepit Swallow pun ada. Untuk kopinya kami juga pake coffee specialty, tapi juga ada yang sachet. Buat biji kopinya kita bawa dari Gayo. Kita sedang men-developt menu  tubruk ke depannya. Untuk saat ini kami menyebut warkop (konsepnya) lebih ke kafe, yang ke depannya akan jadi coffee shop agar lebih mudah diterima.

Sehari dapat menjual berapa porsi Indomie?

Seminggu ini rata-rata kita bisa habis 4-5 box, berarti, ya seratus porsi Indomie, doang ya rata-rata, kurang lebih. Diluar yang lain-lain, ya kata roti bakar dan lain-lainnya kita belum hitung secara detail karena memang baru seminggu buka.

Berapa kapasitas Warkop NYC, dan jam bukanya bagaimana?

Kapasitas warkop NYC luasnya sekitar 100 square feet dengan kapasitas 15-18 orang, dan untuk jam bukanya dari jam 11 sampai 10 malam (waktu New York).

Terakhir, harapan para founder untuk Warkop NYC ke depannya, dan adakah rencana membuka cabang lain?

Harapannya, kami memiliki mimpi ingin Warkop NYC bisa menjadi bisnis waralaba. Kalau Jepang punya 7 Eleven hampir di setiap sisi negaranya, kita bisa punya Warkop NYC. Sekaligus bergerak menjadi media placement bagi brand-brand Indonesia yang mau ekspansi ke sini. Dan, insya Allah juga ini enggak akan menjadi toko satu-satunya, (akan) muncul  lainnya di state lain. Kita juga dengan senang hati menerima kolaborasi dengan seniman Indonesia.

Reporter: Ade Naura Intania

Artikel asli : https://kumparan.com/kumparanfood/warkop-nyc-ekspansi-budaya-nongkrong-dan-ngopi-di-warung-indonesia-ke-amerika-1xemyE2cVXe/full

logo