Siaran Pers: Pandemi Jadi Momentum Optimalisasi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Indonesia

Siaran Pers : Dorong Game Lokal Mendunia, Kemenparekraf Dukung Wakil Indonesia di Tokyo Game Show 2021
September 29, 2021
Siaran Pers: ASN di Lingkungan Kemenparekraf Diharapkan Selalu Optimis Bangkit dari Pandemi
September 29, 2021

SIARAN PERS

 

KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF/BADAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

 

Pandemi Jadi Momentum Optimalisasi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Indonesia

 

Jakarta, 29 September 2021 – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, menyampaikan masa pandemi COVID-19 menjadi momentum untuk mengoptimalisasi pengembangan pariwisata berkelanjutan yang mengedepankan pelestarian alam dan budaya di Indonesia.

 

Dalam webinar “Sustainable Tourism Development Forum (STDev) Seri-5:  Optimalisasi Penguatan Sustainable Tourism Observatories (INSTO) Menuju Pariwisata Berkualitas dan Berkelanjutan di Era Pasca Pandemi”, Rabu (29/9/2021), Sandiaga menyampaikan ada 34 juta masyarakat Indonesia yang menggantungkan kehidupan perekonomiannya di sektor pariwisata, sehingga di masa pandemi ini perlu ada penataan ulang di sektor pariwisata agar pengembangan pariwisata mengedepankan pelestarian alam dan budaya. Sehingga, sektor pariwisata dapat terus dirasakan manfaatnya oleh generasi yang akan datang.

“Sehingga sektor ini nantinya bisa menjadi sektor lokomotif yang mendorong upaya perlindungan pelestarian alam dan warisan budaya dengan konsep planet, people, and prosperity agar bisa dinikmati oleh generasi masa depan,” kata Sandiaga.

Sandiaga mengatakan sektor pariwisata bukanlah warisan dari generasi yang lalu. Melainkan, pariwisata yang berbasis alam dan budaya adalah titipan yang harus diwariskan ke generasi selanjutnya.

“Di masa pandemi COVID-19 ini, kita perlu mengambil langkah yang lebih inovatif, adaptif, dan kolaboratif untuk mengoptimalisasi pariwisata yang berkelanjutan ini,” katanya.

Sandiaga menyampaikan, pada Hari Pariwisata Dunia yang jatuh pada 27 September 2021 bertemakan “Pariwisata untuk Semua”, sehingga seluruh masyarakat Indonesia harus merasakan dampak positif dari sektor pariwisata. Terlebih, Presiden Joko Widodo telah menyatakan pembangunan pariwisata nasional terfokus pada pembangunan pariwisata berkelanjutan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, diversifikasi produk dan layanan, kepuasan, pengalaman, dan adopsi teknologi.

“Sejalan dengan itu, sebagai bentuk program konkret dari sustainable tourism development, Kemenparekraf telah membentuk Dewan Kepariwisataan Berkelanjutan Indonesia. Dewan ini terdiri dari orang-orang berpengalaman yang mewakili setiap pemangku kepentingan,” jelas Sandiaga.

Sandiaga menjelaskan dewan yang beranggotakan tokoh-tokoh pariwisata nasional seperti Mari Elka Pangestu dan almarhum I Gede Ardika ini menjalankan beberapa tugas strategis dalam optimalisasi pariwisata berkelanjutan di masa pandemi dan pascapandemi COVID-19. Di antaranya memberikan arah kebijakan, advokasi pemikiran, mendorong penerapan kode etik kepariwisataan, kontrol dan monitoring kualitas pariwisata, fasilitasi sertifikasi pariwisata berkelanjutan, dan memberikan evaluasi dan rekomendasi pembangunan pariwisata berkelanjutan di setiap pilar kepariwisataan.

“Tren pariwisata yang dipicu oleh pandemi ini menuju ke arah personalized yang berkaitan dengan pengalaman dan kenangan, localized atau memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal. Lalu customized atau wisata minat khusus, dan smaller in size yang mengedepankan kualitas (wisatawan) bukan kuantitas” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sesmenparekraf/Sestama Baparekraf, Ni Wayan Giri Adnyani menambahkan pihaknya telah melakukan upaya-upaya pengembangan pariwisata berkelanjutan sejak 2015 melalui sejumlah program. Di antaranya Sustainable Tourism Destinations (STD), Sustainable Tourism Observatory (STO), Sustainable Tourism Certification, Sustainable Tourism Industry, dan Sustainable Tourism Marketing and Management.

“Sustainable Tourism Observatory ini dibentuk dengan tiga dimensi (tugas) yaitu penelitian, pemantauan, serta laporan dan rekomendasi,” ujar Ni Wayan Giri.

Ia menyebutkan ada lima STO di Indonesia yang tersebar di lima perguruan tinggi negeri. Di mana kelimanya berafiliasi dengan International Network Sustainable Tourism Observatories (INSTO) milik Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO).

“Monitoring Center (MC) STO Danau Toba berada di Universitas Sumatra Utara, kemudian STO Pangandaran di Institut Teknologi Bandung, STO Sleman, Yogyakarta, Borobudur di Universitas Gajah Mada. Lalu STO Sanur, Bali di Universitas Udayana, dan STO Lombok di Universitas Mataram,” ujarnya.

Webinar ini juga dihadiri oleh Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf, Wisnu Bawa Tarunajaya; Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf, Vinsensius Jemadu; dan Staf Ahli Menparekraf bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi, Frans Teguh.

Cecep Rukendi
Plt. Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

logo