Siaran Pers: Menparekraf Temui Pelaku UMKM di Bali Bahas Strategi Pemulihan Sektor Ekraf

Siaran Pers : Menparekraf Bertemu Jajaran Politeknik Negeri Bali Bahas Peningkatan SDM di Desa Wisata
June 11, 2021
Siaran Pers: Menparekraf Harapkan Bali and Beyond Travel Fair 2021 Geliatkan Kembali Sektor Parekraf
June 11, 2021

SIARAN PERS

 

KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF/BADAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

 

Menparekraf Temui Pelaku UMKM di Bali Bahas Strategi Pemulihan Sektor Ekraf

 

Bali , 11 Juni 2021 – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata, Sandiaga Salahuddin Uno melakukan dialog interaktif dengan para pelaku UMKM di Bali. Dalam kegiatan tersebut, ia mendengar masukan dan kendala yang dihadapi para pelaku UMKM selama pandemi.

Pelaku UMKM tersebut diantaranya CV Suasty, CV Digital Vision Global, Jegeg Bagus Butik, Koming Guest House, Caremuz, Rai Shoes, Blumbung Furniture, Calista, Dwi Leather, dan Bali Farm Direct.

 

Salah satu pelaku UMKM CV Suasty mengungkapkan pandemi COVID-19 sangat mempengaruhi pendapatan mereka. Sebelum pandemi CV Suasty memiliki 15 karyawan, namun setelah pandemi berkurang menjadi 7 karyawan. Akan tetapi, di masa pandemi ini pelaku UMKM CV Suasty tetap semangat menghasilkan produk sepatu dan tas yang berkualitas.

 

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Trias dan Ibu Kadek karena CV Suasty ini berhasil bertahan di tengah pandemi dan melambatnya ekonomi. Seperti kita ketahui Bali mengalami kontraksi paling terdalam dari 34 provinsi, tapi CV Suasty ini masih bisa bertahan dari 15 karyawan sekarang tinggal 7 karyawan. Meskipun demikian mereka tetap semangat mengirimkan sampel-sampel produk ke luar negeri,” kata Menparekraf, Sandiaga Uno, di Bali, Jumat (11/6/2021).

 

CV Suasty didirikan sejak 1 Agustus 2015, bergerak di bidang manufaktur dan perdagangan tas, dompet, ikat pinggang, dan aksesoris yang terbuat dari kulit ular cobra, ular phyton, sapi, kambing, domba, pari, dan biawak. Pangsa pasarnya pun berasal dari mancanegara, seperti Prancis, Singapura, Australia, Amerika, hingga Inggris.

Lain halnya dengan pelaku UMKM Jegeg Bagus Butik yang bergerak di bidang fesyen khususnya kain tradisional. Kendala yang dihadapi berkaitan dengan pemasaran produk yang belum meluas. Begitupun dengan pelaku UMKM Blumbungan Furnitur, akses permodalan menjadi salah satu utama yang dihadapi, dikarenakan harga kayu yang terus naik hampir tiap 2 hingga 3 bulan sekali, serta dari sisi promosi juga belum kuat.

 

Beberapa kendala tersebut, langsung direspons oleh Menparekraf. Ia menjelaskan para pelaku UMKM bisa memanfaatkan program Bantuan Insentif Pemerintah (BIP) yang dianggarkan Rp60 miliar. Ada dua kategori dalam BIP ini yaitu BIP Reguler dengan maksimal bantuan yang diberikan sebesar Rp200 juta dan BIP Jaring Pengaman Usaha (JPU) dengan maksimal bantuan yang diberikan sebesar Rp20 juta perpenerima.

 

Selain itu, ada program Beli Kreatif Lokal yang diharapkan mampu membuka akses pasar kepada wisatawan nusantara melalui digitalisasi. Jadi, Menparekraf berharap melalui pemanfaatan program Beli Kreatif Lokal akan meningkatkan minat terhadap produk ekonomi kreatif lokal. Ketiga program Work From Bali, karena program ini bukan hanya meningkatkan tingkat keterhunian hotel tapi juga 70 persen dari kegiatan WFB ini adalah untuk menopang para pelaku ekonomi kreatif.

“Saya berharap produk-produk ekonomi kreatif yang dihasilkan oleh pelaku UMKM kita ini bisa membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya. Itu semangat kita agar kebijakan pemerintah dapat tepat sasaran, tepat manfaat, dan tepat waktu untuk masyarakat yang betul-betul membutuhkan yaitu UMKM yang sedang menghadapi tekanan yang luar biasa,” harap Menparekraf.

 

Vinsensius Jemadu
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Attachments

logo
Hubungi Kami