Siaran Pers : Menparekraf: Pengembangan Ekraf Perlu Didorong dengan Penguatan Pelaku Wirausaha Desa

Bangkitkan Industri Pariwisata, Traveloka-Garuda Gelar Diskon Tiket Pesawat
September 23, 2021
Siaran Pers : Bioskop Kembali di Buka, Menparekraf Tinjau Penerapan Prokes di Epicentrum XXI Jakarta
September 23, 2021

SIARAN PERS

KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF/BADAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

Menparekraf: Pengembangan Ekraf Perlu Didorong dengan Penguatan Pelaku Wirausaha Desa

Jakarta, 22 September 2021 – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan pengembangan ekonomi kreatif perlu didorong dengan penguatan pelaku wirausaha desa.

Menparekraf Sandiaga Uno saat diskusi dengan Bupati Lombok Barat secara daring, Rabu (22/9/2021) malam, mengatakan, pandemi COVID-19 telah memberikan dampak yang besar di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Meski demikian, terjadi perkembangan yang cukup pesat di beberapa sektor ekonomi kreatif seperti kuliner, kriya, fesyen, aplikasi, animasi, dan film televisi.

Peluang ini perlu ditangkap dan dimanfaatkan dengan maksimal oleh masyarakat, termasuk masyarakat desa. Salah satunya dengan membangun ekosistem bisnis dan investasi dari level pedesaan dengan hadirnya wirausaha baru.

“Kita ingin memperkuat dan menumbuh kembangkan usaha baru dengan menciptakan wirausaha-wirausaha baru. Dan wirausaha ini adalah wirausaha berbasis desa,” kata Sandiaga Uno.

Dalam mendukung hal tersebut, Kemenparekraf dikatakannya memiliki tiga pilar utama. Yaitu adaptasi, inovasi, dan kolaborasi. Namun yang tidak kalah penting adalah kompetensi para pelaku atau sumber daya manusia (SDM).

“Kemenparekraf melakukan pendampingan SDM di desa melalui mekanisme supervisi, coaching, pendampingan, dan kolaborasi,” katanya.

Sandiaga juga mendorong agar para pelaku ekraf ikut berpartisipasi dalam Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia. Desa kreatif yang pada dasarnya mengedepankan pengembangan ekonomi kreatif sebagai roda penggerak perekonomian, harus dibangun dengan memperkuat pasar produk ekraf.

“Jadi desa-desa kreatif ini akan punya produk kuliner, kriya, fesyen dan produk-produk ekonomi kreatif lainnya lalu kita bangun pasarnya melalui kerjasama Indonesia Incorporated,” ujar Sandiaga.

Sandiaga menuturkan, Kemenparekraf memiliki program Apresiasi Kreasi Indonesia (AKI) dan Kabupaten/Kota (KaTa) Kreatif dalam upaya mengembangkan Desa Kreatif, khususnya di desa-desa yang berada di Lombok Barat seperti Desa Mekarsari, Desa Sekotong Tengah dan Desa Wisata Sesaot,

Kemenparekraf bersama Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi juga tengah menyusun regulasi pengembangan desa kreatif yang akan diuji cobakan pada tahun ini. Diharapkan pada tahun 2022 dapat dikolaborasikan ke dalam program-program yang dibiayai APBN maupun private-public partnership.

“ADKI (Asosiasi Desa Kreatif Indonesia) maupun Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) bisa dapat kita rangkul untuk bersama-sama mengembangkan program desa kreatif ini sebagai salah satu cara menjadikan desa untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045,” ujar Sandiaga.

Hal ini mendapat sambutan yang baik oleh Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid. Menurutnya, para pelaku ekraf di Lombok Barat membutuhkan pendampingan dan pelatihan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki sebagai upaya mengembangkan desa kreatif.

“Kami sangat butuh pendampingan, pelatihan. Karena dari sisi potensi kami siap, hanya saja kami butuh pendampingan di sisi sumber daya alam,” kata Fauzan.

Diskusi ini juga dihadiri oleh Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani; Direktur Pengembangan Destinasi II Kemenparekraf/Baparekraf, Wawan Gunawan; Direktur Pemasaran Pariwisata Regional II Kemenparekraf/Baparekraf, Agustini Rahayu; Direktur Event Daerah Kemenparekraf/Baparekraf, Reza Pahlevi; Kepala Kepolisian Daerah NTB, Irjen M. Iqbal; dan Ketua Umum ADKI, Fikri El Aziz.

Cecep Rukendi
Plt. Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

logo