Siaran Pers: Menparekraf Dorong Desa Wisata Koto Mesjid Riau Ekspor Produk Olahan Ikan Patin

Laporan Pemantauan Covid-19 di Sektor Parekraf (12 September 2021)
September 12, 2021
Siaran Pers : Menparekraf Tinjau Gerai Sentra Budaya dan Ekraf Lembaga Adat Melayu Riau
September 12, 2021

SIARAN PERS

 

KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF/BADAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

 

Menparekraf Dorong Desa Wisata Koto Mesjid Riau Ekspor Produk Olahan Ikan Patin

 

Riau, 12 September 2021 – Tahapan visitasi dan penilaian terhadap 50 desa wisata terbaik di Ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 terus digulirkan. Kali ini Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, melakukan visitasi ke Desa Wisata Koto Mesjid yang terletak di kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Minggu (12/9/2021).

 

 

Desa Wisata Koto Mesjid merupakan desa pemekaran dari Desa Pulau Gadang pada tahun 1999. Desa ini lebih dikenal dengan sebutan Kampung Patin. Lantaran memiliki budidaya ikan patin yang luar biasa. Sehingga desa ini mempunyai moto ‘tiada rumah tanpa kolam’. Hampir setiap rumah yang ada di Kampung Patin memiliki paling tidak satu kolam patin. Dalam sebulan masyarakat setempat dapat memanen 390 hingga 400 ton ikan patin.

 

“Hari ini kita melihat bahwa Desa Wisata Koto Mesjid sudah menjadi inspirasi, sudah menjadi satu semangat kita semua. Ini adalah simbol kebangkitan ekonomi nasional. Dan hari ini kita canangkan patin harus go internasional, menggantikan salmon. Karena ikan patin Indonesia memiliki kualitas yang baik dan bergizi tinggi, terutama di Provinsi Riau dibandingkan dengan jenis ikan patin di negara lain,” kata Menparekraf Sandiaga.

 

 

Ikan patin di Desa Wisata Koto Mesjid kemudian diolah masyarakat menjadi berbagai macam produk kuliner dengan cita rasa yang unik, seperti kerupuk kulit patin, abon patin, bakso patin, siomay patin, nuget patin, otak-otak patin, cilok patin, ikan asin patin, batagor patin, hingga es dawet patin, serta ada pula keripik batang pisang, dan kelapa jelly (dekla).

 

Tidak hanya itu saja, produk ekonomi kreatif di Kampung Patin ini juga sangat menarik. Misalnya saja produk kriya dari hasil olahan bambu, seperti rotan, dan pandan. Bahkan teman difabel (tuna rungu) juga ikut serta dalam mengolah produk kriya olahan bambu lidi rotan.

 

Yang tidak kalah menarik, Desa Wisata Koto Mesjid ini memiliki program home recycle creative, di mana produk-produk ekonomi kreatifnya memanfaatkan sampah yang masih layak pakai atau limbah paralon, lalu dibuat menjadi pot, tempat tisu, baki gelas, hiasan dinding dan piring lidi rotan. Selain mengurangi sampah juga untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Ada pula produk fesyen yang dihasilkan, yakni batik khas Kampar, tas rajut, hingga sendal rajut.

 

Keunggulan lain yang menjadi daya tarik Desa Wisata Koto Mesjid adalah wisata alam dan buatan. Untuk wisata alamnya sendiri terdapat Sungai Kampar, yang menjadi salah satu sungai terpanjang di Riau, dengan panjang 600 km. Ada juga Sungai Gagak, yang memiliki air terjun yang indah. Serta Lembah Aman dan Talau Pusako.

 

 

Kemudian, untuk wisata buatannya terdapat danau atau waduk buatan yang pada tahun 1991 dimanfaatkan untuk PLTA. Namun kini danau tersebut dijadikan sebagai tempat wisata, karena memiliki pemandangan alam yang sangat cantik seperti di Raja Ampat. Sehingga sering disebut ‘Raja Lima’ dari Riau. Danau buatan tersebut dapat dilihat dari Puncak Kompe, salah satu spot instagramable di desa ini.

 

“Saya berharap di masa pandemi COVID-19 ini akan semakin membuka peluang kita, untuk mencintai destinasi-destinasi wisata khususnya di Riau dengan hashtag KeRiauAja, tidak perlu ke luar negeri, karena jika kangen ke Raja Ampat ada di sini,” katanya.

 

Bagi wisatawan yang ingin bermalam di Desa Wisata Koto Mesjid tidak perlu khawatir. Karena desa ini memiliki 18 homestay yang diberi nama homestay patin 1 hingga 18. Konsep yang diusung homestay ini yaitu ‘rumah warga’, sehingga wisatawan dapat merasakan seperti tinggal sebagai warga lokal.

 

Sementara, Gubernur Provinsi Riau, Syamsuar berharap Menparekraf Sandiaga juga dapat mendorong destinasi wisata dan sentra ekonomi kreatif lainnya yang ada di Riau agar semakin berkualitas dan mampu menarik minat wisatawan baik dari domestik maupun mancanegara.

 

“Kami sangat berharap dukungan dari Mas Menteri. Apalagi Riau ini berhadapan langsung dengan Malaysia. Seperti Bintan yang berhadapan dengan Singapura,” ujarnya.

 

Dalam kesempatan itu, Menparekraf didampingi oleh Direktur Tata Kelola Destinasi Kemenparekraf/Baparekraf, Indra Ni Tua.

 

Borong Semua Produk Ekraf Kampung Patin

 

Setibanya Menparekraf Sandiaga di Kampung Patin, ia dijemput oleh odong-odong yang menjadi salah satu alat transportasi khas Kabupaten Kampar, sekaligus sebagai mata pencaharian warga lokal, dengan kapasitas delapan orang.

 

 

Menparekraf pun disambut oleh Gubernur Provinsi Riau Syamsuar, Bupati Kampar Catur Sugeng Susanto, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau Roni Rakhmat, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kampar Zulia Dharma, Kepala Desa Koto Mesjid Ajurnalis, serta para pejabat di lingkungan Provinsi Riau, Kabupaten Kampar, Pokdarwis, dan juga masyarakat setempat. Seperti diketahui, Provinsi Riau tepatnya di Kabupaten Rumbai, Pekanbaru merupkan tempat kelahiran Menparekraf Sandiaga Uno.

 

Berbagai atraksi seni dan budaya pun ditampilkan untuk menyambut Menparekraf, seperti marawis, tari pasombahan, tari losung, dan pecak silat perisai yang diiringi dengan musik tradisional Gobano.

 

Dalam kesempatan itu, Menparekraf juga menjumpai sentra-sentra ekonomi kreatif. Salah satunya sentra kuliner yang dimotori oleh ibu-ibu pengolah salah satu kuliner berbahan baku ikan patin yaitu rendang patin. Tidak hanya sekadar melihat booth saja, Menparekraf juga tertarik untuk ikut memasak bersama ibu-ibu tersebut.

 

 

Menparekraf lalu memborong semua produk ekonomi kreatif yang dihadirkan dalam sentra tersebut. Ibu Husni, salah seorang yang produk kerupuk lomang balado dan kerupuk jengkolnya diborong oleh Menparekraf, mengaku sangat senang dan terharu. Ia berharap Menparekraf dapat membantu mempromosikan produk yang dihasilkannya.

 

Selain itu, Menparekraf juga menyaksikan para pengrajin membuat suvenir kriya, yaitu batik khas Kampar. Ada pula produk lain yang ditampilkan seperti tas rajut, sepatu rajut, kalung, miniatur perahu, hingga gantungan kunci rajut.

 

Cecep Rukendi
Plt. Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Attachments

logo