Protokol Ketat Jelang New Normal di Malioboro: No Masker, No Malioboro

Ridwan Kamil: Tempat Wisata di Pangandaran Contoh Penerapan New Normal
June 11, 2020
7 Strategi OYO untuk Berikan Rasa Aman Menginap Selama Pandemi
June 11, 2020

Kumparan.com / Konten Redaksi kumparan / 11 Juni 2020 , 17:26 WIB

 

Kawasan Malioboro, Yogyakarta, merupakan salah satu tempat yang menjadi sorotan semasa pandemi virus corona. Terakhir, para pesepeda pada akhir pekan lalu madati kawasan itu hingga membuat Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X kecewa.

Setelah kejadian itu, protokol kesehatan di Malioboro semakin diperketat. Setiap orang yang masuk kawasan Malioboro wajib bermasker, cuci tangan, diukur suhu tubuh, hingga didata dengan scan barcode.

Kepala UPT Malioboro, Ekwanto, menjelaskan apa yang dilakukan pihaknya ini sebagai upaya jelang penerapan new normal. Malioboro sebagai destinasi wisata dan pusat perdagangan di Yogyakarta jangan sampai menjadi klaster penularan virus corona.

“Tadi malam sampai siang persiapan pra pelaksanaan new normal di Malioboro. Ini masih pra belum new normal sebenarnya. Kami mulai memberikan edukasi ke masyarakat dua hari yang lalu bahwa masyarakat pengunjung atau wisatawan, PKL, pengusaha dan pelaku wisata lain kalau masuk Malioboro wajib bermasker,” kata Ekwanto ditemui di Malioboro, Kamis (11/6).

“Tidak ada perdebatan, argumentasi, alasan apapun tanpa masker tidak bisa masuk Malioboro. No masker, no Malioboro,” tegasnya.

Protokol kesehatan ketat di kawasan Malioboro, Yogyakarta, Kamis (11/6).  Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Kini, ada dua pagar utama yang dipasang di utara dan selatan Jalan Malioboro. Pagar tersebut dijaga oleh sejumlah petugas Jogoboro selama 24 jam. Setiap orang yang masuk Malioboro wajib cuci tangan terlebih dahulu dan mengukur suhu badan.

Scan barcode disiagakan sebagai antisipasi jika terjadi hal yang tidak diinginkan seperti adanya orang yang terpapar virus corona. Dengan bantuan barcode, tracing lebih mudah karena sudah ada datanya.

“Titik pemeriksaan di pintu utama di utara dan selatan. Kemudian di sirip-sirip juga ada. Barcode nanti sore mungkin. Nanti pakai handphone kaya aplikasi scan dibuatkan Kominfo. Kalau ada apa-apa biar tracingnya mudah,” kata Ekwanto.

Di pagar penjagaan itu juga ditentukan boleh tidaknya pengunjung tersebut masuk. Tak hanya yang tak bermasker yang tidak boleh masuk, pegunjung dengan suhu di atas 37,5 derajat celcius tidak diperkenankan masuk Malioboro.

Sejauh ini, sebanyak 50 personil Jogoboro bersama Satpol PP dan Dishub dikerahkan di Malioboro. Jika di Jalan Malioboro ditemukan pengendara motor tak bermasker, mereka akan langsung memberhentikan pengendara itu.

“UPT Malioboro tidak bisa bekerja sendiri kami dibantu OPD terkait ada Satpol PP menjaga siapapun pengendara sepeda motor, atau sepeda, pejalan kaki tidak memakai masker ditegur,” katanya.

UPT Malioboro telah menyediakan 40 titik cuci tangan di sepajang Malioboro. Dari catatan UPT Malioboro, jumlah PKL yang sudah buka masih di bawah 50 orang.

Sementara Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, menjelaskan barcode yang digunakan ini untuk memindai para pengunjung. Data itu kemudian akan diteruskan ke server milik Pemkot Yogya.

“Fungsinya jika di suatu kawasan diketemukan kasus COVID-19 kita bisa melacak dan melakukan tracing lebih mudah. Itu belajar daru Klaster Indogrosir yang kemarin kita mengundang (tracing) dengan tanda bukti struk. Dengan sistem barcode kita bisa langsung mengundang yang pada waktu tertentu berada di suatu kawasan,” kata Heroe.

Sementara bagi pengunjung yang tidak memiliki smartphone, Pemkot Yogya masih menyusun mekanismenya. Misal dengan memotret KTP atau sebagainya.

“Intinya memudahkan untuk monitoring pengunjung di suaramu kawasan,” tutup dia.

 

Artikel Asli : https://kumparan.com/kumparannews/protokol-ketat-jelang-new-normal-di-malioboro-no-masker-no-malioboro-1tamO4lZT1Y/full

 

logo