Pernikahan, Ladang Pemasukan Andalan Hotel di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru

151 hotel di Batam kini miliki sertifikat protokol kesehatan
October 20, 2020
12 Kabupaten/Kota Prioritas Penanganan Covid-19
October 20, 2020

Liputan6.com/Dinny Mutiah/Diterbitkan 20 Oktober 2020, pukul 14.03 WIB

Liputan6.com, Jakarta – Semua pengusaha hotel sepakat pandemi Covid-19 memukul telak bisnis mereka. Yang bisa dilakukan saat ini adalah memasang mode bertahan. Salah satunya mencari ladang pemasukan dari sedikit peluang yang tersisa, dalam hal ini pernikahan.

“Mungkin karena orang tak bisa menunda pernikahannya hingga setahun, akhirnya mereka tetap menyelenggarakannya di hotel dengan protokol kesehatan yang sangat ketat,” kata Sona Maesana, Direktur The Sunan Hotel Solo, dalam talkshow Protokol Kesehatan di Hotel dan Tempat Wisata yang digelar BNPB, Selasa (20/10/2020).

Ia menyatakan, permintaan layanan pernikahan di hotel tetap tinggi. Untuk itu, sejumlah terobosan diterapkan agar penyelenggaraannya masih bisa menaati protokol kesehatan yang berlaku, seperti menggelar virtual wedding.

“Bahkan, kami jadi project percontohan pelaksanaan virtual wedding di hotel,” sambungnya.

Pengakuan serupa juga disampaikan CEO Amithya Hotel Indonesia Rucita Permatasari. Ia mengaku sejak masa adaptasi kebiasaan baru diperkenalkan, publik mulai berani kembali menggelar acara personal di hotel, khususnya pernikahan, ulang tahun, dan wisuda. Tapi, pelaksanaannya disesuaikan dengan aturan yang ada.

“Kalau dulu bisa seribu yang datang, sekarang ada yang virtual. Kalaupun digelar secara langsung, bisa dipecah jadi 3–4 batch,” sahut Cita.

Setiap tamu yang datang juga diperiksa suhu tubuh dan diingatkan untuk selalu menjaga jarak, serta memakai masker. Meski begitu, ia mengaku tak mudah mengingat sebagian tamu hotel kerap lupa memasang masker dengan benar atau duduk berdempetan.

“Kita juga edukasi tamu tentang penggunaan masker. Mungkin karena gerah, beberapa customer akhirnya maskernya dilepas. Kita saling mengingatkan lah,” ujarnya.

Sona menyebut hotel miliknya tak sampai menutup operasional meski pandemi nyaris membuat usahanya tak mendapat pemasukan. Sejumlah upaya diterapkan agar bisa bertahan, khususnya terkait protokol kesehatan. Sejak Mei 2020, The Sunan mendapat sertifikasi penerapan protokol kesehatan yang dikeluarkan PHRI.

“Untuk memberi rasa aman dan nyaman bahwa hotel kita laksanakan protokol kesehatan yang baik,” katanya.

Sejumlah perubahan pun terjadi dalam pelayanan pelanggan di hotel. Walau mengaku seluruh fasilitas dibuka untuk tamu, kapasitasnya dibatasi agar bisa menjaga jarak antartamu maupun dengan karyawan. Seluruh fasilitas rutin didisinfeksi, termasuk dengan peralatan pusat kebugaran.

“Dulu buffet bisa ambil sendiri, sekarang lebih di-service sama petugas. Semua diambilkan, tamu tak ambil bergantian agar lebih steril,” imbuhnya.

Sementara, Hotel Amythia menambahkan pelaksanaan tes usap setiap dua minggu sekali sebagai wujud jaminan kenyamanan bagi para calon tamu dan karyawan. “Agar meyakinkan customer tidak khawatir untuk staycation,” sambung Cita.

Artikel Asli: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4387028/pernikahan-ladang-pemasukan-andalan-hotel-di-masa-adaptasi-kebiasaan-baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

logo
Hubungi Kami