Hotel di Cirebon Kembali Dibuka
June 18, 2020
Siaran pers : Industri Pariwisata ASEAN Sepakat Kerja Sama Bangun Kepercayaan Wisatawan di era Normal Baru
June 19, 2020

Suaramerdeka.com / Eko Edi Nuryanto / 19 Juni 2020 ,  00:17 WIB

 

SEMARANG, suaramerdeka.com – Sekalipun Gugus Tugas Nasional Covid-19 telah mengizinkan pembukaan destinasi wisata alam, Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah memastikan tidak akan tergesa-gesa membuka destinasi wisata. Sebelum dijalankan, perlu diketahui secara pasti kondisi daerah, dan kesiapan pengelola memenuhi protokol kesehatan dan mengantongi izin dari gugus tugas Covid-19 setempat. “Untuk buka operasional tetap lihat pandemi setempat dan ada izin. Kesimpulannya jika ada destinasi wisata yang buka secara umum tanpa memeroleh rekomendasi dari ketua gugus covid setempat, yang diketuai kepala daerah, maka dinyatakan ilegal,” kata Kepala Disporapar Jateng Sinoeng N Rachmadi, kemarin.

Disporapar Jateng telah membuat semacam standar operasional prosedur (SOP) “Njagani Plesiran” sebagai tindak lanjut dari Instruksi Gubernur No 2/2020 tentang Tata Cara Memasuki Masa Peralihan yang meliputi tujuh poin, termasuk pariwisata. “Sejak pandemi, seluruh destinasi wisata ditutup sampai batas waktu tidak ditentukan. New normal ini, bukan berarti kembali seperti semula,” tegas Sinoeng. Menurutnya, ada sejumlah norma yang harus dipenuhi pengelola destinasi wisata. Salah satunya melakukan simulasi atau latihan sebelum dibuka kembali. Simulasi itu untuk melihat kesiapan destinasi wisata dalam hal ticketing, pembatasan jarak, ketersediaan hand sanitizer, antiseptic, serta kemampuan pengelola dalam memandu pengunjung untuk mematuhi protokol kesehatan.

“Mereka tidak serta merta buka sebelum melakukan simulasi atau latihan. Selanjutnya, adalah izin dari satgas gugus Covid-19 setempat untuk melihat kondisi daerah apakah kategori merah, kuning, atau hijau. Sejauh ini yang direkomendasikan adalah yang masuk kuning dan hijau,” kata dia. Contohnya adalah simulasi Candi Borobudur. Simulasi ini menurut Sinoeng untuk menyongsong pembukaan operasi. “Borobudur ticketing sudah bagus, ada virtual dan touchscreen, serta ticket box. Pengunjungnya juga dibatasi, maksimal 50 persen dari kapasitas normal. Borobudur misalnya, pengunjungnya rata-rata 14 ribu-15 ribu, maka ketika dibuka, pengunjung dibatasi maksimal 7.000 orang,” ungkap dia.

Selain itu dibuka secara bertahap, tidak setiap hari. “Kami juga mengutamakan wisatawan lokal. Maka tagline wisata Jawa Tengah, ”Ke Jateng Aja”. Tidak punya target untuk wisatawan asing, kami utamakan wisatawan lokal,” terang dia.

Siapkan Fasilitas

Perlunya sejumlah persiapan terkait pelaksanaan protokol kesehatan sebelum kembali beroperasi dibenarkan Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang, Otros Trianto. Saat ini pihaknya tengah melakukan persiapan jelang dibukanya kembali objek wisata religi Gunung Tidar. Pihaknya saat ini tengah menyiapkan sejumlah tempat cuci tangan di pintu masuk dan keluar serta di area makam.

Otros mengatakan, persiapan tidak hanya seputar peralatan protokol kesehatan, tapi juga personel. Personel ini penting guna mengatur wisatawan agar tetap mematuhi protokol kesehatan. “Kami juga perlu menyiapakan penempatan personel untuk mengatur pengunjung. Lalu membuat tanda pembatas tempat duduk, pengadaan pos kesehatan baik di bawah maupun di tengah gunung, hingga pelatihan penerapan protokol kesehatan bagi petugas,” ujarnya, kemarin.

Lebih lanjut dikatakan, pihaknya juga masih memerlukan sarana protokol kesehatan yang lengkap, diantaranya thermo-gun, tempat cuci tangan, alat pelindung diri (APD) hingga face shield. “Kami juga belum bisa buka pada malam hari. Jika disetujui, akan dibuka mulai pukul 07.00 WIB-16.00 WIB,” ucapnya. “Destinasi wisata harus disiapkan dengan baik dan matang, jangan tergesa- gesa. Tempat wisata kita ada Taman Kyai Langgeng, Gunung Tidar, juga museum-museum. Termasuk alun-alun dan Taman Badan. Harus diketatkan, jangan asal buka dulu,” jelasnya.

Sekda Kota Magelang Joko Budiyono memaparkan, beberapa persiapan telah dilakukan oleh pengelola Taman Kyai Langgeng untuk menyambut wisatawan. Persiapan meliputi menyiapkan fasilitas cuci tangan di 50 titik, membuat tanda pembatasan pengunjung dan merumuskan batas maksimal jumlah kunjungan. “Di dalam area Taman Kyai Langgeng jumlah pengunjungnya harus dibatasi. Ini masih dirumuskan berapa kapasitanya. Nanti bergantian. Misalnya, kalau di dalam sudah ada 1.000 orang, maka wisatawan yang masih di luar harus menunggu,” ungkapnya. Namun demikian, kebijakan pembukaan obyek wisata tak tak serta merta membuat jumlah pengunjung menjadi naik. Di obyek wisata religi makam Sunan Muria di lereng Muria Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, angka kunjungan masih sangat minim.

Kepala Desa Colo Destari Andryasmoro mengatakan, kompleks makam Sunan Muria mulai dibuka awal Juni. Simulasi kunjungan wisatawan juga telah dilakukan untuk memastikan protokol kesehatan dilaksanakan. Namun, angka kunjungan peziarah hanya sekitar sepuluh persen dari hari normal sebelum pandemi. Selain makam Sunan Muria, Pemkab Kudus menunjuk Taman Sardi sebagai dua objek wisata percontohan pengelolaan pariwisata di era normal baru (new normal). Kabid Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus Mutrikah mengatakan, simulasi kunjungan wisatawan telah dilakukan.

 

Artikel Asli : https://www.suaramerdeka.com/news/nasional/231935-pembukaan-tempat-wisata-harus-izin-pemda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

logo
Hubungi Kami