UMKM Batik Diberi Pendampingan
November 3, 2020
Pemerintah diminta dorong akses UMKM ke pasar digital
November 3, 2020

Antaranews.com/Abdul Muiz/ 3 November 2020, 13:52 WIB

DAMPAK pandemi Covid-19 dirasakan oleh setiap orang. Tidak terkecuali komunitas difabel di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Namun, kejelian mereka memanfaatkan momentum, membuatnya tetap produktif. Melalui batik bermotif gambar virus korona, optimisme mengarungi kehidupan saat perekonomian terpuruk diwujudkan.

Pagi itu matahari malu-malu menampakan wajahnya. Mendung bergelayut menjadikan keperkasaan sang surya redup. Namun, rinai yang membasahi bumi Kota Blora di awal musim hujan ini tidak menyurutkan Sukahat (60) keluar rumah. Mantel hujan dipakainya. Sepeda angin butut dikayuhnya meninggalkan Dusun Sumengko, Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Tiga puluh menit berselang, ia pun tiba di kantor sekretariat Dibafel Blora Mustika (DBM) di jalan Hasanuddin, Desa Kamolan, Kecamatan Blora. Rekan-rekannya sesama penyandang keterbatasan fisik telah menunggu kedatangannya. Hari itu mereka hendak menyelesaikan pesanan memproduksi kain batik bermotif virus korona. ‘’Alhamdulillah cukup banyak pesanan yang datang. Kami bersama teman-teman harus menyelesaikan tepat waktu. Jangan sampai terlambat, meski saat ini pandemi Covid-19,’’ ujar Sukahat, Minggu (1/11/2020).

Cobaan dan Inspirasi

Bagi komunitas difabel Blora, pandemi Covid-19 adalah cobaan dari Tuhan sekaligus mendatangkan inspirasi. Ketua DBM Muhammad Abdul Ghofur (36) mengungkapkan, di awal masa pandemi Covid-19 mulai Maret hingga Juni, sejumlah pihak membatalkan order kain batik yang sebelumnya dipesan di DBM. Tak hanya perorangan. Pembatalan pesanan dilakukan pula beberapa organisasi di pemerintahan maupun swasta. ‘’Katanya, anggarannya dialihkan untuk penanganan Covid-19. Sehingga pesanannya dibatalkan,’’ ungkap Gus Ghofur, sapaan akrab Muhammad Abdul Ghofur.

Akibatnya, selama lebih dari tiga bulan, produksi batik di DBM berhenti. Padahal, dari produksi batik itulah sejumlah anggota DBM menggantungkan hidupnya. Selain membuat kain batik, penghasilan sehari-hari penyandang disabilitas di Blora yang berjumlah sebanyak 6.767 orang diperoleh dari beragam bidang usaha. Di antaranya berdagang di pasar, bertani, maupun membuat kerajinan seperti sulak atau kemoceng, anyaman bambu, keset kaki dan produksi ramuan herbal. Namun, pandemi Covid-19 yang berdampak pada lesunya perekonomian global maupun nasional, juga berpengaruh besar pada penghasilan mereka. ‘’Pembeli di pasar sepi. Barang yang laku hanya satu dua saja setiap hari,’’ ungkap Siti Mumtarin (30) dari atas kursi rodanya. Ia merupakan pengelola toko DBM di Pasar Rakyat Blora Sido Makmur.

Menurut Gus Ghofur, masa awal pandemi Covid-19 telah membuat ia dan para anggota DBM mulai merasakan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Pendapatan dari kerajinan batik turun drastis. Uang tabungan pun mulai menipis. Mengharapkan bantuan pemerintah terus menerus, tak mungkin mereka lakukan, apalagi jika telah berkeluarga. Ia dan teman-temannya berpikir keras bagaimana caranya bisa lepas dari tantangan ini.

Roda kehidupan terus berputar. Asap dapur pun harus tetap mengepul. Pemberitaan gencar di media massa tentang Covid-19 lengkap dengan gambar-gambar severe acute respiratory syndrome coronavirus (SARS-COV2) atau virus penyebab Covid-19 membuat Gus Ghofur tertegun. Diamatinya gambar virus itu berulang kali. Ia jeli. ide kreatif pun muncul. Ia berniat menjadikan gambar virus korona sebagai motif batik. ‘’Awalnya ada perasaan khawatir juga, jangan-jangan tidak laku. Mosok gambar virus dijadikan motif kain batik. Masyarakat menganggap virus korona sebagai musuh bersama,’’ ungkap pria kelahiran Blora 10 Oktober 1984.

Namun, tekad untuk membangkitkan kembali perekonomian anggota komunitas difabel mengalahkan kekhawatiran itu. Gus Ghofur teringat masa lalunya pada 2006. Hanya bisa terbaring selama satu setengah tahun setelah kakinya diamputasi usai kecelakaan kerja renovasi gedung di tempatnya mengajar, membuatnya nyaris putus asa. Ia mencoba bangkit. Baginya, menyerah kepada nasib bukan jalan keluar. Dengan modal keberanian dan pantang menyerah, ia bersama sejumlah difabel lainya mendirikan komunitas DBM pada 2011. Di awal berdirinya, DBM merintis usaha pembuatan kerajinan keset kaki. Namun, usaha itu tidak semulus yang diharapkan. Mereka kemudian beralih menggeluti kerajinan batik setelah mendapatkan pelatihan membatik yang diadakan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Blora pada 2017. Selepas itu, beberapa kali pelatihan membatik diikuti para anggota DBM, termasuk pelatihan pemasaran. Rumah batik yang mereka dirikan di halaman belakang kantor sekretariat DBM, menjadi lebih lengkap peralatannya usai memperoleh donasi dari NU Care-LAZISNU. Dengan kualitas yang bisa diadu dengan karya perajin batik profesional, DBM memberanikan diri mengikuti pameran batik tingkat Jawa Tengah maupun nasional. Usai mengikutu pameran, pesanan silih berganti datang. Para pejabat pun tidak segan memakai batik produksi komunitas difabel Blora. Bupati Blora Djoko Nugroho, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo hingga Wakil Presiden KH Makruf Amin dan Presiden Joko Widodo mengagumi batik karya Gus Ghofur dan kawan-kawan. Komedian Cak Lontong juga pernah memesan kain batik DBM. ‘’Kami bangga batik buatan saudara-saudara kita difabel Blora. Batiknya cukup keren, kualitasnya bagus,’’ ujar Bupati Blora Djoko Nugroho saat peringatan Hari Batik Nasional, 2 Oktober 2020.

 

Kreasi dan Momentum

Agar tidak kalah bersaing dengan produk batik lainya, beragam motif batik dibuat DBM. Menurut Gus Ghofur, salah satu karakteristik konsumen adalah mudah bosan. Keyakinan itu membawa DBM berinovasi membuat beragam motif batik. Tak terhitung jumlah motif yang dikreasikan DBM. Mulai dari motif yang mencirikan kekhasan Blora antara lain akar dan daun jati, hingga motif yang menandakan satu peristiwa tertentu. Seperti motif batik Asian Games serta Asian Paragames 2018 ketika Indonesia menjadi tuan rumah. Ada juga motif proklamasi kemerdekaan Indonesia. Dari sekian banyak motif ini, yang paling tenar adalah motif difabel mengejar impian. ‘’Salah satu ciri khas kain batik yang kami buat adalah bermotif peristiwa atau momen-momen tertentu. Kami membuatnya untuk mengenang sejarah. Tidak terkecuali batik motif virus korona ini,’’ kata Gus Ghofur.

Pandemi Covid-19, menurut Gus Ghofur, adalah peristiwa yang tak akan terlupakan oleh siapa pun. Termasuk akan menjadi pembelajaran bagi anak cucu generasi penerus kelak. Pandemi Covid-19 telah menjadi bagian dari sejarah kehidupan manusia. DBM ingin mewarnai sejarah tersebut. Antara lain dengan menuangkan gambar virus korona pada selembar kain batik. ‘’Semuanya  ingin agar pandemi Covid-19 ini segera berakhir dan perekonomian kembali bangkit. Kami juga ingin batik motif korona ini menandai bangkitnya kembali perekonomian komunitas difabel dan masyarakat Indonesia,’’ tegas pria yang telah dikarunia dua orang anak ini.

Tak dinyana, kemunculan batik motif korona mendapat sambutan antusias masyarakat. Beberapa hari setelah diupload di media sosial facebook dan youtube di akun DifabelBlora Mustika pada awal September, pesanan mulai berdatangan. Tak hanya warga Blora. Warga dari luar daerah seperti Jakarta juga memesan batik motif virus korona ini. Peralatan membatik DBM yang sudah lebih tiga bulan disimpan, saat itu juga dikeluarkan dari tempatnya. Beberapa anggota DBM segera dikumpulkan. Keceriaan pun kembali terpancar dari wajah mereka. Datangnya pesanan menandakan pundi-pundi rupiah bakal segera terisi. ‘’Dibanding batif motif Asian Games 2018, lebih banyak pesanan batik motif korona ini. Jumlahnya hingga kini sudah lebih dari 100 lembar,’’ ungkap Ghofur.

Tidak kurang dari 10 orang anggota DBM dikerahkan untuk menggarap pesanan. Tenaga kerja yang dilibatkan akan ditambah manakala jumlah pesanan lebih banyak dan waktu penyelesainnya terbatas. Satu lembar kain dikerjakan secara gotong royong untuk mengombinasikan batik tulis dan cap. Ada yang menyiapkan bahan dan peralatan. Ada pula yang bertugas mengecap motif korona di atas kain, menulis, mewarnai dan tugas lainnya. Belum lagi mereka yang ditugaskan untuk memasarkan. ‘’Saat mengerjakan batik, kami juga tetap memakai masker. Kami ingin disiplin menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus korona,’’ kata Sukahat.

Satu lembar batik motif korona berukuran 200 centimeter x 115 centimeter berbahan kain prima dijual dengan harga Rp150.000,00. Sedangkan berbahan kain primis, harganya lebih mahal, Rp250.000,00. Adapun warna kain disesuaikan dengan pesanan. Pembagian pendapatan dari penjualan per lembar batik, ungkap Gus Ghofur, dilakukan sesuai kesepakatan. 50% untuk modal, 35% upah pekerja, dan 15% untuk bagian pemasaran. ‘’Kami berharap makin banyak pesanan yang datang. Bukan hanya batik. Tapi juga kerajinan lainnya. Sehingga teman-teman difabel tetap bisa produktif dan memperoleh penghasilan di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini,’’ kata Kandar (60), wakil ketua DBM yang kedua tangannya diamputasi. Bagi komunitas difabel Blora, di masa pandemi Covid-19 hanya ada dua pilihan, menyerah pasrah atau tetap berusaha bekerja. (Abdul Muiz)

Artikel Asli : https://www.suaramerdeka.com/regional/muria/245969-pandemi-covid-19-menginspirasi-komunitas-difabel-blora

logo
Hubungi Kami