Menikmati Biota Laut di Era New Normal, Syaratnya Wajib Patuhi Protokol CHSE

Eksplorasi Bahan Herbal Lokal Jadi Kunci Pengembangan Wisata Wellness Spa Indonesia
November 4, 2020
Kemenparekraf rumuskan strategi pemasaran wisata selam saat pandemi
November 4, 2020

Inews.id/Vien Dimyati/Diterbitkan 4 November 2020, pukul 16.16 WIB

JAKARTA, iNews.id – Bagi penggemar wisata selam, kini bisa kembali menjelajahi lautan di Tanah Air. Pasalnya, panduan protokol kesehatan Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) wisata selam sudah mulai disosialisasikan. Dengan adanya panduan protokol CHSE kegiatan wisata selam, wisatawan bisa kembali menikmati keindahan bawah laut. Tentunya dengan mematuhi syarat protokol CHSE yang dirumuskan.

 

Panduan CHSE disosialisasikan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) melalui Deputi Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events). Kali ini, sosialisasi ditujukan kepada pelaku usaha wisata selam sekitar Jakarta, Bogor, Tangerang Depok, Bekasi, Serang dan Bandung. Sebelumnya, sosialisasi dilakukan di beberapa destinasi selam di Manado, Labuan Bajo, dan Bali pada Oktober 2020.

 

Deputi Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Rizki Handayani menjelaskan, panduan CHSE wisata selam telah disusun bersama kalangan industri dan dilegitimasi oleh badan Dive Alert Network (DAN).

 

“Dengan adanya panduan ini diharapkan kegiatan wisata selam dapat berjalan kembali dengan nyaman dan aman. Mudah-mudahan, panduan CHSE dapat memberikan pemahaman di masa new normal kepada kalangan industri wisata selam dan mengajak untuk bersama-sama mempromosikan wisata selam kepada masyarakat luas,” kata Rizki Handayani dalam kegiatan Sosialisasi Panduan CHSE Wisata Selam & Dive Tourism Market Updates, di Jakarta Selasa (3/11/2020). Menurut Rizki, panduan CHSE wisata selam ini salah satu strategi yang telah disusun bersama-sama menjadi kesatuan yang penting dalam upaya memberikan rasa aman untuk melakukan wisata selam.

 

“Karena kita tahu diving ini sangat banyak berhubungan dengan mulut, jadi droplet itu banyak sekali. Maka dengan panduan ini, bisa menimbulkan rasa aman dan nyaman wisatawan untuk diving,” ujar Rizki. Kemenparekraf/Baparekraf telah menerbitkan protokol kesehatan di bidang usaha wisata selam sebagai panduan bagi pelaku dan juga wisatawan melakukan aktivitas selam. Penerapan protokol kesehatan tidak hanya memastikan kesiapan industri untuk bangkit tapi juga meningkatkan kepercayaan wisatawan.

 

Sementara itu, Kasubdinparekraf Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Puji Hastuti menjelaskan, setelah ditutup selama pandemi, Kepulauan Seribu membuka kembali wisata selam sejak 12 Oktober 2020. Kemudian, mulai 31 Oktober 2020, kembali mendapatkan kunjungan wisatawan yang akan menyelam. Sebelumnya, pariwisata Kepulauan Seribu telah menerapkan protokol Kesehatan dengan berpedoman pada SK Kadisparekraf DKI No. 135/2020. Kepulauan Seribu memiliki sebanyak 110 pulau. Pulau-pulau ini menjadi destinasi populer untuk wisata selam. Adapun destinasi selam di Kepulauan Seribu, antara lain, Pulau Pramuka, Pulau Sepa, Pulau Harapan, Pulau Pari dan Pulau Macan.

 

Dalam sosialisasi tersebut, sesi diskusi diawali dengan pemaparan panduan CHSE wisata selam yang dibawakan oleh tim penyusun, Abimanyu Carnadie dan Bayu Wardoyo. Keduanya menjelaskan secara singkat isi dari buku panduan protokol kesehatan (CHSE) wisata selam. Salah satu tim penyusun, Bayu Wardoyo mengimbau kepada kalangan industri wisata selam untuk tidak mengakali penerapan protokol Kesehatan yang telah ditetapkan. “Jika tidak diterapkan secara konsisten, wisatawan menjadi tidak nyaman dan aman, akibatnya tingkat kepercayaan terhadap destinasi tersebut berkurang,” kata Bayu.

 

Ketua Persatuan Usaha Wisata Selam Indonesia (PUWSI) Ricky Soerapoetra menjelaskan, PUWSI telah melakukan survei dampak pandemi Covid-19 terhadap 102 pelaku usaha wisata selam. Sebanyak 66% usaha wisata tidak beroperasi, dikarenakan banyak pemilik usaha adalah warga negara asing yang menutup usahanya. Sementara itu, sebanyak 93% responden sudah tidak memiliki pemasukan, dengan total kerugian sebesar Rp75,8 miliar. Selain itu, ada sebanyak 1.784 orang pekerja terdampak, dengan status dirumahkan dan lainnya.

Editor : Vien Dimyati

 

Asli: https://www.inews.id/travel/destinasi/menikmati-biota-laut-di-era-new-normal-syaratnya-wajib-patuhi-protokol-chse/all

logo