Melihat Citayam Fashion Week sebagai Potensi Subkultur Jakarta

Dukung G20, Kemenparekraf adakan IWCTF 2022 di Solo
July 27, 2022
Kemenparekraf jembatani 20 penulis skenario dengan industri film
July 27, 2022

Cnnindonesia.com/ CNN Indonesia / 27 Jul 2022, 12:30 WIB

Jakarta, CNN Indonesia — Fenomena Citayam Fashion Week yang terjadi di kawasan Dukuh Atas-Sudirman, Jakarta, menjadi perhatian luas khalayak. Kemunculan Citayam Fashion Week dianggap sebagai potensi gerakan subkultur berbasis fashion street.

Kawasan Dukuh Atas-Sudirman, Jakarta, yang biasanya hanya dilalui kelas pekerja, kini menjadi magnet untuk anak-anak muda yang berasal dari daerah penyangga Jakarta seperti Citayam, Bojong Gede, Depok. Belakangan, remaja-remaja dari Bekasi dan Tangerang juga turut bergabung.

Mereka awalnya datang untuk sekadar nongkrong di kawasan Dukuh Atas-Sudirman, mencari teman baru, melepas kepenatan sambil mengenakan pakaian dengan gaya nyentrik dan unik. Lalu menjadi dikenal luas karena konten TikTok yang memperlihatkan wawancara para remaja itu seperti Bonge, Jeje, Roy, dan kawan-kawan dengan gaya cuek, blak-blakan, lugu, dan apa adanya.

Menurut Sejarawan Betawi, JJ Rizal, sebelum Citayam Fashion Week, Bonge dan kawan-kawan menemukan ruang terbuka Dukuh Atas-Sudirman, karena dianggap sebagai simpul kantong manusia. Dukuh Atas menjadi titik temu beberapa moda transportasi, yang menjadi semacam pusat gerbang mengantar orang dari satu tujuan ke tujuan lain di Jabodetabek.

Dukuh Atas diketahui sebagai sistem transportasi terintegrasi pertama Jakarta, di mana beberapa moda transportasi seperti KRL Commuterline, TransJakarta, MRT, LRT Jabodebek, dan kereta bandara bertemu. Meskipun merupakan potensi subkultur Jakarta, uniknya para remaja itu malah bukan berasal dari Jakarta.

“Masih terlalu dini menyebut Citayam Fashion Week sebagai subkultur. Penolakan bahkan pembangkangan yang menjadi ciri subkultur harus diuji. Citayam Fashion Week harus ditempatkan pada gerak masyarakat yang menuntut ruang publik berkualitas,” kata JJ Rizal kepada CNN Indonesia.

Rizal melihat anak-anak muda dari Citayam itu sebagai alat deteksi ampuh sekaligus penunjuk yang pas menemukan model ruang publik yang sejatinya adalah simpul orang bertemu, infrastruktur kantong manusia urban yang tidak seragam dan berasal dari mana-mana.

“Bonge dan kawan-kawan menemukan Dukuh Atas dan sekitarnya bukan bermaksud secara sengaja melawan memori kota yang didominasi kelas menengah atas. Tetapi bisa dilihat dari kacamata kontestasi anak kampung memberi warna memori pada kota,” tuturnya.

Fenomena yang berpotensi menjadi subkultur ini sesungguhnya bukan pertama kalinya muncul di Jakarta. Pada era akhir 80-an dan awal 90-an, kawasan Blok M (Melawai) pernah diinvasi anak-anak muda Jakarta.

Istilah JJS (jalan-jalan sore) akrab menjadi sebutan untuk aktivitas anak-anak muda yang memadati kawasan Blok M kala itu. Mereka juga mengenakan pakaian dengan gaya fesyen yang sedang tren sambil beraksi breakdance.

Tempat lain yang juga disebut sebagai potensi subkultur Jakarta ada di Banjir Kanal Timur (BKT), Duren Sawit. Keberadaan BKT bukan hanya sebagai penangkal banjir, tapi justru menjelma menjadi tempat rekreasi warga.

Setiap sore, area pinggir BKT kerap dijejali pedagang seperti pasar kaget dan pengunjungnya pun ramai. Pengunjung BKT biasanya datang tidak sendiri, bahkan sejumlah komunitas memilih berkumpul di sana.

Banyak pengunjung BKT mengendarai motor berkumpul, baik perempuan maupun laki-laki. Bahkan muncul istilah “cabe-cabean” BKT untuk menggambarkan para remaja perempuan yang berboncengan dan nongkrong di lokasi penangkal banjir tersebut.

Kerap terlihat juga kelompok sepeda BMX dan skateboard yang bermain di BKT. Tepi BKT dimanfaatkan untuk kegiatan mereka, seperti berlatih dan beraksi.

Artikel asli : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20220726171114-269-826409/melihat-citayam-fashion-week-sebagai-potensi-subkultur-jakarta

logo