Masa Pandemi COVID-19, Sarung Buatan Warga Tegal Laris Manis di Afrika

Yogyakarta usulkan 15.736 usaha mikro-kecil peroleh bantuan produktif
November 30, 2020
Siaran Pers : Kemenparekraf Tekankan Peran Penting Media di Era Pandemi
November 30, 2020

Kumparan.com / Konten ini diproduksi oleh PanturaPost /30 November 2020, 16:54 WIB

TEGAL – Meski pandemi COVID-19, tidak menyusutkan para pengrajin sarung alat tenun bukan mesin (ATBM) di Kota Tegal. Bahkan mampu bersaing dengan negara lain di pasar internasional. Terbukti, produk sarung asal Kota Tegal, yang berupa Songket Turkey, laris manis di delapan negara di Afrika. Dan, mengalahkan sarung sutra buatan India dan Thailand.

Pemilik PT Asaputex Jaya, Kota Tegal, Jamaludin Al Katiri, Senin (30/11) mengaku bersyukur karena selama pandemi, yakni mulai bulan Maret hingga bulan Agustus, tidak ada penggurangan karyawan satu pun dan jumlahnya masih berkisar 6 ribu orang.

“Kita namanya pejuang tekstil yang ada di pantura. Selama pandemi kita mencoba, berjuang bagaimana mempertahankan usaha kita, terutama yang menyangkut karyawan banyak,” katanya.

Dalam kondisi seperti ini, ia pun mengajak para pengrajin ATBM yang ada di wilayah eks Karesidenan Pekalongan (Brebes, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Pemalang, Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan dan Batang) untuk mencoba berinovasi membuat motif motif baru yang bisa diterima di pasar mancanegara maupun dalam negeri.

“Pengrajin di sini kan masih terfokus pada ATBM yang biasa disebut Sarung Tegalan. Kemudian kami coba membuat sarung dengan motif yang biasa dibuat oleh kota atau negara lain. Dan alhamdulillah ternyata berhasil,” ungkapnya.

Dari inovasi pertama, para pengrajin ATBM yang tergabung dalam pembinaan PT Asaputex Jaya, Kota Tegal ini akhirnya berhasil mengeluarkan 5 motif dari sarung Songket Turkey. Tidak tanggung tanggung, inovasi sarung tersebut langsung diterima di 8 negara Afrika, 2 negara Timur Tengah dan 2 Negara Asia di luar Indonesia.

“Ini merupakan produk dan motif inovasi terbaik. Bahan yang kita pakai sekarang adalah bahan organik, dari bahan serat kayu. Harganya cukup murah, yakni untuk eceran paling tinggi Rp 200 ribu,” ujarnya.

Sarung tersebut, lanjut Jamat, menjadi sarung alternatif bagi masyarakat yang terpuruk akibat  pandemi COVID-19. Karena, masyarakat yang terbiasa menggunakan sarung berbahan sutera yang berharga hingga Rp 1,5 juta, bisa memilih sarung Songket Turkey buatan warga Tegal dengan harga yang terjangkau.

“Jadi, saya lihat selama pandemi ini, orang ingin menggunakan sarung yang berkwalitas bagus dan harga terjangkau. Sehingga kita keluarkan Songket Turkey dengan harga eceran paling mahal 200 ribu dengan packing yang sangat bagus,” jelasnya.

Terkait dengan inovasi yang dihasilnya, Jamal pun merasa bangga dengan perjuangan para pengrajin ATBM di kawasan Pantura Karesidenan Pekalongan yang mampu bertahan di tengah pandemi COVID -19. Apalagi, motif motif sarung yang dihasilkannya cukup bagus dan merupakan sarung fashion. Karena sarung ini bisa dibuat untuk baju koko maupun dress untuk perempuan.

“Alhamdulillah ini keberhasilan yang harus disyukuri. Apalagi saat ini kita dapat pesanan untuk bulan ini hingga bulan April tahun depan. Bahkan, untuk bulan Oktober dan November sudah ada penerimaan, ada cash kembali dari luar negeri. Begitu juga dari dalam negeri, juga sudah ada yang memesan. Terutama untuk Aceh, Makasar dan Banjarmasin,” pungkasnya. (*)

Artikel Asli : https://kumparan.com/panturapost/masa-pandemi-covid-19-sarung-buatan-warga-tegal-laris-manis-di-afrika-1ugq1VSBhXN/full

logo