Siaran Pers : Kemenparekraf Umumkan 232 Pelaku Pariwisata dan Ekraf Sebagai Penerima BIP 2020
November 2, 2020
Pemkab Badung pastikan pengusaha harus penuhi syarat untuk hibah pariwisata
November 2, 2020

Cnnindonesia.com /CNN Indonesia / 02 November 2020, 19:08 WIB

Jakarta, CNN Indonesia — Sekretaris Jenderal Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mencatat terjadi lonjakan okupansi hotel sebesar 40 persen sepanjang libur panjang pekan lalu.

Dia menyebut daerah-daerah yang mengalami lonjakan terbesar merupakan daerah yang memiliki objek wisata tersohor seperti Yogyakarta, Bali, Banten dan Jawa Barat.

“Daerah yang meningkat okupansinya adalah daerah-daerah yang memiliki objek wisata seperti kawasan Bogor, Puncak, Banten, Yogyakarta, dan Bali,” katanya kepada CNNIndonesia.com pada Senin (2/11).

Lebih lanjut, ia mengatakan puncak liburan terjadi pada 3 hari terakhir yaitu Jumat hingga Minggu atau 30 Oktober hingga 1 November lalu.

Maulana menyebut tak ada lonjakan yang berarti untuk hotel-hotel di ibu kota karena minat masyarakat untuk melakukan staycation relatif rendah. Meski sebetulnya, kata dia, banyak hotel berbintang yang banting harga karena ketatnya persaingan di industri.

Hal tersebut, menurutnya, dikarenakan masih rendahnya daya beli masyarakat. Mereka yang memutuskan untuk berlibur, memilih untuk mengunjungi objek wisata dibanding tinggal di dalam hotel.

Melihat hal tersebut, ia memproyeksikan masyarakat tak akan membludak pada liburan di akhir tahun ini.

“Pergerakan ekonomi sangat mempengaruhi, dengan kondisi sulit saat ini banyak orang yang tidak bekerja. Dengan kondisi tidak baik, tidak mungkin orang berwisata,” ujarnya.

Sementara, Ketua Harian PHRI Banten Ashok Kumar menyebut khusus untuk hotel-hotel di pesisir pantai Banten, terjadi kenaikan hampir 100 persen. Dia menyebut masyarakat cenderung memilih untuk menghuni hotel-hotel di pesisir pantai.

Ini kontras dengan okupansi di pusat kota Banten seperti Serang atau Cilegon yang mengalami kenaikan sekitar 40 persen.

Walau okupansi sempat melonjak, namun ia menilai kenaikan sementara tersebut harus dibarengi dengan momentum untuk membuat roadmap promosi yang menarik.

“Kami sampaikan jangan bangga. Pariwisata itu harus bisa berkesinambungan. Bagaimana melakukan terobosan kalau yang kemarin sampai 99 persen, sekarang bisa 10 persen saja sudah hebat,” jelasnya.

Artikel Asli : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20201102141806-92-564914/libur-panjang-phri-catat-kenaikan-okupansi-40-persen

logo
Hubungi Kami