Kawan Etnik, Merekatkan Tenun Lokal ke Hati Generasi Milenial

Sumbar terima sertifikat penghargaan desa wisata terbanyak ADWI 2021
August 27, 2021
Lahirnya Kolaborasi Lewat Rasa
August 27, 2021

Inilah.com/Ibnu Naufal/Diterbitkan 27 Agustus 2021

Apakah kalian pernah mendengar komunitas yang berkecimpung dalam penggemar kain tenun etnik? Dalam artikel kali ini, Inilah.com ingin memperkenalkan kalian pada salah satu komunitas kain tenun etnik paling kece di Jakarta yaitu ‘Kawan Etnik’.

Kawan Etnik adalah komunitas seni kain etnik yang lahir dari para pelanggan Awan Ethnic Craft yang didirikan oleh Mansu dan Awan Ikhwan.

Dijumpai salah satu pendirinya di rumahnya di petukangan utara, Jakarta selatan, Jumat (27/8/2021) yang tak jauh dari tokonya, Awan (32) sapaanya menyambut dengan banyak macam desain kain etnik yang sudah lama ia koleksi.

Ia menuturkan komunitas Kawan Etnik kebanyakan memang teruntuk mereka yang hobi budaya Indonesia dengan tenunnya.

“Kalau kisaran berapa total kawan etnik mungkin sejumlah follower (instagram) awanethniccraft,” tuturnya kepada Inilah.com.

Awan yang berbicara dengan logat canda betawinya menceritakan, Kawan Etnik sebagian besar sekumpulan dari pelanggannya yang level tingkat anak sekolahan hingga Mahasiswa. Selain membuat acara perkumpulan untuk tukar ide terkini soal tenun lokal. Mereka juga mencari kain tenun yang cocok dengan ukuran kantong mereka, seperti tenun Sumba dan Toraja yang menjadi favorit. Di luar itu, banyak yang mencari aksesoris.

Awan juga menceritakan ia amat senang berbisnis dan melestarikan seni dan kebudayaan pada saat yang bersamaan dengan menjual aneka macam kain tenun dari berbagai daerah di Indonesia. Tak hanya berupa lembaran, kain tenun diolah menjadi aneka ragam produk yang siap pakai mulai dari pakaian hingga aksesoris.

“Tahun 2016 awal merintis sudah banyak yang suka kita bahkan buka toko pertama di Mal Neo Soho, Jakarta Barat,” kenang Awan.

Kain tenun yang dijual di antaranya berasal dari Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Banten, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Sulawesi. Selain kain tenun, AEC juga menjual aneka ragam kerajinan (craft) khas Indonesia.

“Di sini (Awan Ethic Craft) enggak cuman tenun doang, tapi ada kerajinan khas daerah di Indonesia,” tambahnya.

AEC yang telah memperkerjakan 23 karyawannya ini juga menjual ragam kain tenun dengan corak bervariasi yang didapatkan dari berbagai daerah ketika Awan berjalan keliling Indonesia. Selain dijual dalam bentuk lembaran, kain tenun juga berbentuk produk aksesoris fashion seperti kalung,gelang, topi, tas, baju, outerwear, jaket, sampai sarung dan pakaian muslim.

“Yang paling diminati, dilihat dari penjualan terbanyak (berbentuk) kain. Karena anak traveling, jalan itu lebih seneng bawa kain untuk difoto. (Awan Ethnic Craft) Salah satu pionir bikin tren kaya gitu, sih. Kita mulai dari sendiri, sebelum jualan emang udah dipakai kaya gitu. Setelah rame banyak yang nanyain, baru kita jualan,” ujar Awan.

Tembus Mancanegara

Sekarang, lanjut Awan, Kawan Etnik juga datang dari luar negeri. Ia menuturkan AEC sudah menembus berbagai negara, mulai dari Singapura, Malaysia, Filipina, Jepang, hingga Hongkong. Dua negara yang disebutkan paling awal, yakni Singapura dan Malaysia, menjadi mayoritas.

”Malaysia, Jepang,Turki hingga taiwan semuanya sering memesan, kebanyakkan yang dipesan model syal” ujar Awan.

Strategi yang dijalankan AEC seperti halnya pelapak kekinian memaksimalkan pontensi ranah digital seperti sosial media dan ecommerce sebagai lapak utama.

Pria yang masih melajang ini mengaku sangat senang karena produknya bisa naik ke panggung global, terlebih dengan tambahan negara-negara di luar Asia. Dia berharap ingin terus mengembangkan bisnis karena para pelaku usaha lokal harus berkembang terus, keluar dari zona aman, dan tidak berpuas diri saat sudah berada di posisi ini. Bersama dengan Kawan Etnik, dia ingin menggali potensi bisnisnya lebih jauh lagi agar bisa bersaing dan menarik agar Kain Tenun lokal dari para pengrajin lokal buatan AEC bisa memiliki khasnya sendiri.

Bertahan di Masa Pandemi

Setelah pada Maret 2020, pandemi Covid-19 menyerang Indonesia. Kehadirannya memberikan dampak negatif yang cukup signifikan terhadap pelaku UMKM. Meski ditutupnya toko pertamanya di Mal Neo Sho Awan tetap bertahan dengan bantuan para Kawan Etnik serta strategi memanfaatkan program yang ditawarkan AEC, dengan dukungan sinergi Kawan Etnik seperti penjualan siaran langsung flash sale. Menurutnya dengan model penjualan langsung via Instagram bisa dapat lebih berinteraksi walau dalam pembatasan Covid-19 sehingga lebih aman dan para Kawan Etnik juga nyaman.

Selama masa Pandemi Covid-19 yang belum berakhir. AEC juga memilki sejumlah terobosan seperti pembuatan Memakai masker penutup mulut dan hidung yang menjadi bagian kampanye pencegahan penularan penyakit SARS-CoV-2.

Masker bermotif tenun etnik juga berbeda dengan masker bergambar yang banyak ditemui dan dijual bebas meskipun masker sama-sama berbahan kain neoprene yang lembut dan lentur. Keunikan masker gambar itu karena dapat dinilai sebagai produk seni tenun lokal yang dibanggakan.

Seiring dalam perkembangannya, Kawan Etnik dalam naungan AEC terus bertumbuh dan diharapkan tenun bisa menjadi mode tren yang tidak akan pernah punah dan menjadikan fasion keseharian.

Awan yang juga punya kegiatan rutin mengajak Kawan Etnik untuk berdonasi tiap hari Jumat ini menyadari tantangan ke depan tidak semakin ringan. Apalagi di masa Pandemi yang susah untuk mencari ajang event offline untuk itu pihaknya terus berbenah mencari inovasi untuk terus mengenalkan kain tenun ke pada generasi milenial.

“Harapannya (AEC) selalu dikenal sebagai anak mudanya tenun Indonesia. Bangga pakai tenun Indonesia, juga dengan melestarikan tenun lokal turut membantu perekonomian tanah air,” ucap Awan.

Artikel Asli: https://www.inilah.com/news/793/kawan-etnik-merekatkan-tenun-lokal-ke-hati-generasi-milenial

 

logo