Jogo Wisata di Telaga Madirda, Ide Wisata Kemping Muncul Usai Jadi Lokasi Karantina

Pemuda Asal Solo Road Trip Kenalkan Wayang Suket
November 4, 2020
Kemenparekraf Optimalkan Potensi Pariwisata Domestik
November 4, 2020

Suaramerdeka.com / Irfan Salafudin/ 4 November 202, 09:24 WIB

PANDEMI Covid-19, memukul dunia pariwisata dengan sangat telak. Tak ada kunjungan wisatawan, tempat rekreasi pun sepi bak kuburan. Pun demikian yang terjadi di Telaga Madirda. Karena pandemi Covid-19, objek wisata yang terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar ini sepi pengunjung.

Tak ada wisatawan yang datang, untuk menikmati hawa sejuk pegunungan dan panorama telaga yang permai di kaki Gunung Lawu itu. Selama dua bulan, antara Maret hingga April, aktivitas di objek wisata yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Berjo itu mandeg. Hingga kemudian menjelang Lebaran 2020, tepatnya pada awal Mei, pemerintah desa setempat memutuskan untuk menjadikan area Telaga Madirda sebagai lokasi karantina, bagi pemudik yang pulang ke Desa Berjo.

Area telaga dinilai pas sebagai lokasi karantina, untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 yang mungkin dibawa pemudik dari luar wilayah, karena sepi. Lokasinya juga cukup terpisah dari area pemukiman.

“Selama satu bulanan, area telaga jadi lokasi karantina pemudik. Selama 14 hari, pemudik yang pulang ke Desa Berjo dikarantina dan ditempatkan di tenda-tenda yang ditata di area pulau telaga. Karantina rasa kemping. Kami siapkan matras dan sleeping bag, agar yang dikarantina tidak kedinginan di dalam tenda saat malam hari,” kata Ketua Bumdes Berjo Eko Kamsono.

Tak dinyana, keputusan menjadikan area telaga sebagai lokasi karantina, menjadi titik balik dalam pengelolaan Telaga Madirda ke depan. Karantina rasa kemping itu, memunculkan ide untuk mengembangkan wisata kemping di tepi telaga.

“Pertimbangannya, wisata kemping di tepi telaga memberi pengalaman baru. Suasana dingin pegunungan dapat, panorama alam juga dapat. Kalau biasanya kemping di hutan, ini di tepi telaga. Ada sensasi yang beda, dibanding tempat kemping yang lain,” tutur Eko.

Setelah berbagai persiapan, termasuk menyiapkan tenda dengan berbagai kapasitas, per 14 Juni 2020, wisata kemping Telaga Madirda diluncurkan. Promosi via sosial media gencar dilakukan. Hasilnya, ngehits dan lumayan viral.

Telaga Madirda kembali ramai wisatawan. Banyak yang datang untuk merasakan sensasi kemping di tepi telaga. Setiap akhir pekan, 20 hingga 30 tenda berdiri di tepi telaga, ditempati kempingers dari berbagai kota. Di hari biasa pun, ada dua hingga tiga tenda yang dihuni. Selain keluarga, kempingers juga berasal dari berbagai komunitas, atau rombongan instansi tertentu.

“Ada yang bawa tenda sendiri, ada yang menyewa. Kami siapkan empat paket persewaan tenda dengan berbagai kapasitas. Dari paket sewa tenda berkapasitas dua orang, hingga berkapasitas delapan orang. Harganya bervariasi,” tuturnya.

 

Protokol Kesehatan

 

Selain membayar biaya sewa tenda, pengunjung juga dikenakan harga tiket masuk sebesar Rp 10 ribu per orang dan retribusi parkir kendaraan. Sementara jika membawa tenda sendiri, selain membayar harga tiket dan retribusi parkir, pengunjung dikenakan biaya sewa tempat Rp 25 ribu. Waktu kemping dibatasi, dari pukul 15.00 untuk check in, hingga maksimal pukul 10.00 keesokan harinya untuk membongkar tenda.

Agar tidak gabut di malam hari, kempingers bisa membuat api unggun sembari bakar singkong, jagung, atau memasak makanan lain. “Jika ada yang membutuhkan kayu bakar atau arang, ada yang menjual di lokasi. Singkong dan jagung juga ada yang jual,” jelasnya.

Jika pengunjung ingin merasakan suasana kemping tanpa harus menginap, pengelola juga menyiapkan paket short time. Dengan membayar Rp 25 ribu, pengunjung bisa kemping dengan durasi maksimal tiga jam, di tenda yang sudah diberi matras. “Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, kempingers yang belum nikah tidak boleh setenda. Kami cek dulu, sebelum izin kemping diberikan,” tegasnya.

Bagaimana dengan penerapan protokol kesehatan? Eko mengatakan, tentu dilakukan dengan ketat. Pengunjung dicek suhu tubuhnya sebelum diperbolehkan kemping, untuk memastikan kondisinya fit.

“Kami juga mengimbau, agar selalu pakai masker, jaga jarak dan cuci tangan di tempat yang disediakan. Imbauan ini tidak hanya untuk mereka yang kemping, tapi juga selalu disampaikan pada wisatawan biasa. Bahkan ada satgas Covid-19, yang patroli sembari mengingatkan protokol kesehatan pada pengunjung,” ujarnya.

Eko mengaku, terobosan di Telaga Madirda itu merupakan upaya, agar wisata yang sempat mati suri karena pandemi, bisa bangkit kembali. Apalagi, Telaga Madirda merupakan potensi wisata, yang keberadaannya memberi dampak positif bagi kehidupan masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun sosial.

“Sebab, pengelolaan wisata di sini semuanya melibatkan masyarakat. Baik dari tenaga teknis, sampai yang mengelola berbagai fasilitas, semua warga setempat. Kalau ini sampai pingsan berkepanjangan, ya akan semakin berat. Makanya, kami berinovasi, berusaha agar wisata di sini ramai lagi. Menambah wahana wisata baru, yang bisa menjadi daya tarik,” ungkapnya.

Dalam waktu dekat, pengelola Telaga Madirda akan membuka wahana flying fox yang melintasi telaga sepanjang 300 meteran, serta menyediakan fasilitas glamping (glamour camping), sebagai wahana wisata tambahan. Eko mengatakan, inovasi itu tak lepas dari konsep Jogo Wisata, bagian dari Gerakan Jogo Tonggo yang dicanangkan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo beberapa waktu lalu.

“Dari inovasi ini, kami ingin menjaga agar potensi wisata tetap hidup, sehingga keberadaan Telaga Madirda tetap memberi manfaat bagi masyarakat, sekaligus memberi manfaat bagi pengunjung yang ingin refreshing. Makanya, protokol kesehatan diterapkan secara ketat. Fasilitas tenda, juga fasilitas lainnya, dibersihkan secara rutin. Pengunjung juga dibatasi, agar tidak berkerumun,” tandasnya.

Dia berharap, dari inovasi tersebut, kehidupan pariwisata bisa pulih kembali, meskipun masa pandemi belum berlalu. Budiyono, salah satu kempingers dari Solo, mengaku tertarik untuk mencoba wisata kemping di Telaga Madirda karena sensasi yang ditawarkan.

“Saya tahu informasinya dari sosial media. Sepertinya asyik, kemping di tepi telaga bersama keluarga. Makanya saya coba. Ada sensasi baru. Tak hanya dapat hawa gunung yang sejuk, tapi juga panorama telaga yang apik,” ujarnya.

Artikel Asli : https://www.suaramerdeka.com/news/liputan-khusus/246041-jogo-wisata-di-telaga-madirda-ide-wisata-kemping-muncul-usai-jadi-lokasi-karantina

logo