Jelang KTT G20 di Bali, Sektor Pariwisata Bangkit Lagi Sejak Mati Suri 2 Tahun Akibat Pandemi COVID-19

4.000 Restoran Indonesia Ditargetkan akan Hadir di Luar Negeri 2024
November 9, 2022
Wisata Bawah Laut Raja Ampat Incaran Wisatawan Asing maupun Lokal
November 10, 2022

Liputan6.com/ Tanti Yulianingsih/ 10 November 2022, 11:23 WIB

Bali – Tinggal hitungan hari perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT G20 akan digelar di Pulau Bali. Konferensi ini diperkirakan akan membawa peruntungan sendiri untuk masyarakat sekitar, membangkitkan ekonomi dan pariwisata Pulau Dewata, setelah dua tahun mati suri karena pandemi COVID-19.

Perhelatan besar ini juga diharapkan akan meningkatkan jumlah kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) yang turut mendongkrak pemulihan sektor pariwisata Bali, termasuk peningkatan persentase hunian hotel dan pendapatan para pengrajin lokal.

Kepala Dinas Pariwisata Bali, Tjokorda Bagus Pemayun, mengatakan Bali sudah siap menyambut kedatangan para delegasi dan tamu KTT G20.

“Hotel untuk delegasi siap, 24 hotel lebih siap menyambut delegasi mulai dari petugas hotel yang memakai pakaian adat, sampai minuman welcome drink khas Bali,” ujar Tjokorda Bagus Pemayun kepada DW Indonesia yang dikutip Kamis (10/11/2022).

Perekonomian Bali pada tahun 2022 diperkirakan tumbuh pada kisaran 3,80% – 4,60% year-on-year (yoy), lebih tinggi dibandingkan tahun 2021 yang masih mengalami kontraksi sebesar -2,47% yoy.

Tren kunjungan wisman ke Pulau Dewata juga dilaporkan terus meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wisman ke Bali mencapai lebih dari 276.600 pada Agustus 2022 dan pada September mencapai sekitar 290.000 wisman. Kebanyakan di antaranya berasal dari India, Prancis, Inggris dan Jerman.

Secara akumulatif, jumlah wisman ke Bali pada Januari – Agustus 2022 naik 2.080% jika dibandingkan dengan periode Januari hingga Agustus 2021 yang hanya sebanyak 43 kunjungan.

“Kunjungan rata-rata 10.000 per hari dari 26 maskapai penerbangan yang sudah masuk Bali. Omset UMKM juga meroket hingga 100% dari masa pandemi, meski belum bisa seperti sebelum pandemi tapi ini perkembangan signifikan,” kata dia.

Pada 2018, Bali juga menjadi tuan rumah pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Bali juga menjadi tempat penyelenggaraan KTT Apec pada 2013.

Sementara Direktur Eksekutif Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Ida Bagus Purwa Sidemen, mengatakan sejak awal tahun pihaknya sudah melakukan berbagai persiapan untuk menyambut KTT G20, di antaranya kesiapan akomodasi, keamanan dan kesiapan keadaan bencana.

“Training pegawai sudah jauh hari sebelumnya dilakukan, karyawan hotel di-upgrade training-nya bagaimana memberikan standar pelayanan yang baik, apalagi tamu-tamu pejabat penting. Beberapa hotel juga sudah melakukan renovasi dan bahkan perombakan hotel tempat untuk menginap delegasi,” kata Purwa.

“Saat pandemi hotel hanya dikelola tim kecil terdiri dari 20 sampai 30 orang saja yang dibayar harian. Beberapa karyawan kontrak habis tidak dilanjutkan. Jadi tim restoran hanya dipakai kalau ada tamu saja, baru kami bekerja. Jadwal kerja juga 2 hari seminggu saja. Saya menjadi pekerja harian saat itu,” ujar Nia.

Menjelang G20 Nia pun kembali dikontrak oleh pihak hotel per tahun. Artinya, ia akan mendapatkan gaji bulanan seperti sebelum pandemi melanda.

“Harapan kami semua pegawai sektor pariwisata, keadaan bisa seperti ini terus sampai nanti. Setelah G20 perekonomian bisa lebih baik lagi, Indonesia tidak kena resesi agar pariwisata membaik, event-event ramai terus,” kata dia.

 

Harapan Terbukanya Peluang Usaha

Gusti Putu Sudika, 55, pemilik salah satu rental mobil di Bali juga merasakan bisnisnya kian ramai usai pandemi mereda, termasuk menjelang akhir tahun dan adanya gelaran KTT G20.

“Memang setelah masa pandemi lewat, itu order sudah semakin banyak, sekarang mobil saya bisa jalan sekitar 15 sampai 20 hari dalam sebulan,” kata dia.

Semasa pandemi, ia terpaksa harus banting setir mengerjakan apa pun seperti membantu tamu, sampai menjadi penjaga vila yang kosong. “Semasa pandemi, paling turis yang datang itu domestik saja, dan itu juga jarang. Jadi saya kerja sambilan bersih-bersih vila di daerah sini,” kata dia.

Ia berharap perhelatan G20 akan membawa banyak manfaat terutama bagi masyarakat kecil di sekitarnya.

“Harapannya itu pariwisata bali bangkit, meningkat sehingga kami ada kerjaan untuk bisa makan,” kata dia.

 

Sekilas tentang Bali, Tuan Rumah KTT G20 15-16 November 2022

Acara pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 akan dilaksanakan pada 15 sampai 16 November 2022 mendatang di Indonesia. Pada tahun ini, acara G20 dilaksanakan di Bali.

KTT G20 merupakan pertemuan puncak yang dihadiri oleh seluruh Kepala Pemerintahan/Negara anggota G20. Adapun KTT berikutnya akan dilaksanakan pada tanggal 21–22 November 2020 di kota Riyadh, ibu kota Arab Saudi.

Saat ini, Bali juga menjadi lebih cantik dan ramah lingkungan dalam kegiatan pembenahan infrastruktur kawasan yang didukung dengan penghijauan yang masif.

Beberapa kawasan juga sudah ditingkatkan infrastrukturnya. Termasuk penataan mangrove di Tahura Ngurah Rai yang akan menjadi salah satu kawasan untuk diperlihatkan kepada para pimpinan serta delegasi negara yang hadir dalam acara KTT G20.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Azwar Anas bahkan sudah mempersiapkan skenario penyesuaian operasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai pada saat acara berlangsung.

Penyesuaian tersebut juga berdasarkan dari surat edaran Dirjen Perhubungan Udara Nomor SE 11 tahun 2022 tentang Pengaturan Operasional Penerbangan selama Penyelengaraan KTT Presidensi G20 Indonesia 2022 di Bandara Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali.

Berikut sekilas informasi tentang Bali yang akan jadi tuan rumah KTT G20.

 

Profil Bali

Bali atau dikenal juga sebagai Pulau Dewata merupakan salah satu pulau di Bali yang tidak hanya terkenal oleh warga lokal. Namun juga terkenal oleh wisatawan asing karena pantai dan kawasannya yang sangat indah.

Maka tidak heran daerah ini menjadi salah satu kawasan wisata di Indonesia yang turut dibanggakan.

Dikutip dari tarubali.baliprov.go.id, dijelaskan bahwa pada 1958, Bali resmi menjadi provinsi sendiri dengan ibu kota Singaraja. Namun kemudian pada 1960 berpindah ke daerah Denpasar.

Secara keseluruhan Bali terdiri dari pulau-pulau kecil di sekitarnya seperti Nusa Penida, Nusa Lembongan, Nusa Ceningan, dan Pulau Serangan. Bali mempunyai pulau secara keseluruhan sekitar 85 pulau termasuk dengan pulau yang tidak berpenghuni.

Sebagian besar masyarakat di Bali menganut agama Hindu. Bali juga disebut sebagai Pulau Seribu Pura karena di setiap sudut wilayah terdapat pura peribadatan. Pura-pura tersebut mulai dari pura yang besar untuk tempat upacara bersama ataupun pura kecil yang ada di setiap rumah.

Ritual dan kebudayaan adat Bali sangatlah kental sampai saat ini. Setiap ritual keagamaannya juga mempengaruhi hampir setiap unsur serta gerak kehidupan dari masyarakat Bali.

Hal itu menjadikan Bali sebagai lokasi yang dipenuhi tidak hanya oleh alamnya yang indah, tetapi juga kebudayaannya yang khas sebagaimana Indonesia dengan sejuta kebudayaannya.

Artikel asli : https://www.liputan6.com/global/read/5121529/jelang-ktt-g20-di-bali-sektor-pariwisata-bangkit-lagi-sejak-mati-suri-2-tahun-akibat-pandemi-covid-19

logo