Vaksin bisa jadi angin segar bagi sektor pariwisata 2021
December 16, 2020
70 pelaku pariwisata Indonesia ikuti pelatihan bahasa Mandarin
December 17, 2020

Cnnindonesia.com / CNN Indonesia / 16 Desember 2020, 18:55 WIB

Jakarta, CNN Indonesia — Adaptasi dan transformasi digital menjadi kunci bagi pelaku ekonomi kreatif untuk menghadapi pandemi Covid-19. Mereka yang tak melakukannya terpaksa berhenti dari bisnis ini.

Sutradara film Indonesia Hanung Bramantyo sudah membuktikan keampuhan adaptasi dan transformasi digital ini untuk mempertahankan bisnis ekonomi kreatif di tengah pandemi.

Pada awal pandemi lalu, ia tengah menjalankan produksi tiga film, yakni ‘Tersanjung’ (gala premiere), ‘Surga Tak Dirindukan 3’ dan ‘Ibunda’. Dalam waktu bersamaan, Hanung mengatakan ada film berjudul Mekkah I’m Coming yang saat itu juga sedang diputar di bioskop.

“Saat pandemi, semuanya berhenti total. Yang gala premiere tidak jadi tayang sampai hari ini. Yang sudah tayang di bioskop langsung turun, drop karena tidak ada penonton. Yang sedang syuting seminggu lagi mau selesai harus berhenti,” katanya dalam Dialog Produktif ‘Industri Kreatif Melawan Hantaman Pandemi’ di Media Center Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN), Selasa (15/12).

Syuting film di Yogyakarta juga terpaksa dihentikan karena ditolak oleh masyarakat. Apalagi kebanyakan krunya berasal dari Jakarta, yang menjadi salah satu episentrum penyebaran Covid-19. Hanung pun sementara tetap tinggal dengan keluarganya di Yogyakarta hingga saat ini.

“Sisi positif pandemi, saya semakin dekat dengan anak-anak saya. Tapi kebahagiaan itu itu hanya berlangsung dua sampai tiga minggu. Saya merasa kalau saya tidak berbuat sesuatu saya pusing, saya bisa gila,” kenangnya.

Ketika kebosanannya memuncak karena harus berdiam diri di rumah selama berbulan-bulan, Hanung kemudian memutuskan untuk membuat film pendek bersama anak-anaknya dengan berbekal kamera handphone.

Film pendek besutan Hanung dan anak-anaknya ini kemudian tayang di salah satu laman situs berbagi video. Gayung bersambut, film tersebut ditonton hingga 700 ribu orang dan akhirnya dilirik sponsor.

“Ternyata kreativitas muncul ketika diri kita terpenjara. Kepepet baru muncul,” guraunya.

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Prabu Revolusi mengatakan ada dua tipe manusia yang sukses bertahan hidup ketika pandemi.

Manusia yang adaptif dan manusia yang melakukan transformasi teknologi. Hal yang terjadi pada Hanung diakuinya merupakan contoh manusia yang sukses dalam melakukan transformasi digital.

Namun masih banyak para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif yang gagap menghadapi pandemi ini karena tidak mau beradaptasi dengan situasi pandemi dan tidak mau melakukan transformasi digital.

“PR-nya adalah masih banyak yang belum seperti itu, atau gagap ketika menghadapi pandemi ini. Kemenparekraf membuat program inkubasi untuk film maker agar tetap berproduksi, kita bantu dengan insentif atau penulisan skenario di masa Covid-19,” pungkasnya.

Artikel Asli : https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20201216185229-239-583099/cerita-hanung-bramantyo-berkarya-di-tengah-pandemi

logo
Hubungi Kami