Cerita Akhir Pekan: Tren Sepatu Ramah Lingkungan di Indonesia

Siaran Pers : Menparekraf Tinjau Pelaksanaan Vaksinasi Perdana Pelaku Parekraf di Batam
March 20, 2021
Laporan Pemantauan Covid-19 di Sektor Parekraf (21 Maret 2021)
March 21, 2021

Liputan6.com/Henry/Diterbitkan 21 Maret 2021 pukul 08.31 WIB

Liputan6.com, Jakarta – Belakangan ini, gerakan cinta lingkungan semakin gencar. Produk ramah lingkungan dan bisa didaur ulangpun mulai banyak bermunculan. Bukan melulu soal buang sampah atau memilah sampah, gerakan ramah lingkungan juga mulai merambah ke dunia fesyen seperti sepatu.

Meski tidak sebanyak baju atau pakaian, tiap orang biasanya punya lebih dari sepasang sepatu, ada yang punya dua, tiga, atau bahkan puluhan koleksi sepatu. Kalau sudah tak terpakai atau rusak, sepatu biasanya dibuang dan menjadi sampah.

Untuk itu, ada beberapa mereka sepatu yang mulai menggunakan bahan yang ramah lingkungan. Bukan hanya di luar negeri, di Indonesia juga ada sejumlah produsen yang memproduksi sepatu. Salah satunya adalah CDE. Mereka merupakan produsen sneakers yang cukup gencar menggalakkan gerakan perubahan lingkungan.

Sepatu-sepatu di CDE dibuat dengan bahan-bahan daur ulang yang didesain secara khusus agar dapat terurai dengan mudah. Didirikan pada 2016 oleh William Gunawan, awalnya mereka menjual sepatu konvensional. Namun pendangannya berubah saat menyaksikan film dokumentasi bertajuk The True Cost di Netflix.

“Film ini benar-benar membuka mata saya tentang dampak sosial serta lingkungan dari industri alas kaki. Awalnya saya kira film itu melebih-lebihkan aspek pencemaran terhadap lingkungan. Namun apa yang dibahas dalam film tersebut terus mengiang dalam kepala saya,” ungkap William lewat pesan pada Liputan6.com, 18 Maret 2021.

“Tumpukan sampah produksi di pabrik saya sangatlah banyak hingga saya harus membayar tukang sampah secara khusus untuk mengangkutnya, Waktu saya tanya ke mereka, katanya ternyata sebagian sampah yang tidak bisa dibuang ke TPU tapi dibuang ke hutan atau tengah tambak. Dari situ saya kaget, dan langsung jadi merasa bersalah,” tambahnya.

Sedikit-demi sedikit matanya mulai terbuka akan dampak negatif dari usaha yang dialaninya. Tapi ia tidak rela bila harus berhenti dan menutup pabrik sepatu miliknya. Akhirnya William memutuskan untuk mulai dari nol dengan membentu brand baru, yaitu CDE. Usahanya ternyata berjalan dengan lancar dan sukses. Meski begitu semuanya tidak selalu berjalan mulus karena banyak juga tantangan yang dihadapi.

Menurut William, yang pertama adalah biaya. Menggunakan bahan yang lebih baik otomatis perlu biaya yang lebih tinggi, mulai dari bahan kulit yang lebih ramah lingkungan, lem berbahan alami, sol karet, semuanya itu lebih tinggi biayanya dibanding bahan sepatu konvensional.

Yang kedua membangun kultur perusahaan dimana karyawan dan perajin sepatu yang selama puluhan tahun sudah terbiasa dengan cara bekerja lama, tiba-tiba harus mengubah kebiasaan. Hal-hal seperti itu meski terdengar sepele namun cukup “merepotkan” bagi mereka. Namun dengan edukasi, akhirnya mereka juga bisa memahami dan bersedia.

Setelah masalah lain teratasi, kini ada masalah lagi yang juga menimpa banyak bidang usaha yaitu pandemi Covid-19. William memgakui, di awal pandemi, penjualan turun drastis. Meski sekarang sudah mulai pulih, namun biaya iklan naik jauh sekali dibanding masa sebelum pandemi, ini berlaku di hampir seluruh iklan digital, mulai dari Facebook, Instagram, Google dan Youtube.

“Padahal di masa pandemi, pelanggan juga semakin sensitif terhadap harga, sehingga kami tidak bisa menaikkan harga. Dari sisi produksi, di bulan April Mei kemarin sempat ada masalah dalam pengadaan bahan. Untungnya kami punya stok cukup banyak hingga akhirnya mereka kembali beroperasi,” jelasnya.

Untuk kedepannya, Wulliam meyakini akan semakin bagus. Ia melihat 3D Printing akan menjadi sebuah teknologi yang berperan besar dalam mengurangi dampak lingkungan. Mengapa 3D printing?

“Dalam produksi sepatu konvensional, pasti ada bahan yang akhirnya terbuang sia-sia. Pasti ada potongan bahan tersisa yang akhirnya menjadi sampah. Namun dengan 3D Printing, bahan akan seluruhnya dipakai menjadi sepatu. Ini dapat menekan sampah secara besar-besaran,” terangnya.

Saat ini, William sedang mempertimbangkan teknologi ini bersama dengan beberapa calon investor. Ia juga berharap agar CDE kedepannya akan bisa membuat perubahan yang lebih besar lagi untuk lingkungan.

“Besar harapan saya agar apa yang saya kerjakan ini dapat menginspirasi lebih banyak orang lagi untuk turut berpartisipasi dalam gerakan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Kami (saya dan seluruh tim CDE) ini ibaratnya hanyalah sebuah gerigi kecil dalam mesin besar, kami bukan apa-apa, tapi kami harap kami dapat membuat gerigi-gerigi kecil lain untuk ikut berpartisipasi dalam membuat perubahan positif,” tutupnya.

Selain itu ada juga Node, singkatan dari No Deforestation atau tanpa penebangan hutan. Merek ini mengkhususkan diri dalam memproduksi sepatu ramah lingkungan. Merek ini terbentuk sebagai implementasi hasil penelitian gabungan antara Balai Besar Pascapanen Kementerian Pertanian dengan PT. Triangkasa Lestari Utama.

Node mengambil konsep alas kaki bahan baku alami berkelanjutan dan bukan mengambil konsep 3R seperti brand-brand yang sudah banyak ada.Menurut pendiri dan pimpinan Node, David Chrisnaldi, pada Liputan6.com, 19 Maret 2021,

Untuk sepatu perdana kami (Biosneakers Samasama) memiliki konten bio sekitar 90 persen. Kami menyediakan layanan pengolahan produk habis masa pakai sekiatr 3 sampai 5 tahun dengan mendekomposisi sol sepatunya dan mendaur ulang uppernya. Untuk produk yang akan kami rilis di bulan Mei 2021 sudah 100 persen dari tanaman,” ungkap David.

Ia menambahkan, meski berbahan baku tanaman bukan berarti sepatu akan mudah rusak, tapi akan mudah di dekomposisi dengan teknik khusus agar kembali menjadi tanah. Tantangan utama dalam membuat produk sepatu ramah lingkungan menurut David, adalah komponen-komponennya belum komplet dan pilihan yang ada pun sangat terbatas. Terutama yang terkait dengan elastomer, polymer, lem, benang, dan pewarna.

Ditambah lagi, beberapa komponen sepatu dari tanaman memerlukan kemampuan rekayasa yang sangat rumit. “Perlu Technopreneur biomaterial yang menguasai hal yang disebut Engineering Art (Seni Rekayasa).Untuk UMKM membangun ekosistem riset seperti ini di Indonesia tidak mudah, karena riset di lembaga negara dan swasta untuk Biomaterial masih sangat sedikit,” tuturnya.

Bersama Node, David mengaku sudah banyak mengalami suka duka, seperti trial and error ratusan kali untuk menciptakan komponen-komponen yang belum ada seperti sol, lem, foam, dan pewarna.

“Pengorbanan biaya, pikiran dan tenaga bertahun-tahun untuk menciptakan sesuatu yang belum ada sungguh luar biasa. Kami beruntung didukung oleh peneliti-peneliti di Balai Besar Pascapanen Kementerian Pertanian dan Dewan Serat Indonesia,” uajr David.

Seperti juga CDE, Node juga optimis dengan peluang membuat produk sepatu ramah lingkungan di masa mendatang. Kata David, kreasi komponen-komponen Bio di dunia sudah dan akan semakin kreatif, bukan hanya fungsional namun juga estetika dan kenyamanan. Pilihan-pilihan komponennya semakin banyak untuk membuat sepatu lebih menarik.

“Kami berharap penjualan Biosneakers kami terus meningkat hingga sampai pada satu titik dimana ekosistem material bio komplit dan perubahan positifnya dirasakan masyarakat. Kami juga berharap ada perhatian khusus dari pemerintah pusa, selain itu UMKM technopreneur material bio di Indonesia masih ada dan berjuang dengan segala keterbatasan dana,” pungkasnya.

Artikel Asli: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4511357/cerita-akhir-pekan-tren-sepatu-ramah-lingkungan-di-indonesia

logo