Cerita Akhir Pekan: Proses Evaluasi Penerapan CHSE

Laporan Pemantauan Covid-19 di Sektor Parekraf (22 Mei 2021)
May 22, 2021
Siaran Pers : Menparekraf Berkomitmen Hadirkan Program yang Tepat Sasaran dan Tepat Manfaat
May 22, 2021

Liputan6.com/Komarudin/ Diterbitkan 22 Mei 2021, 10.02 WIB

Liputan6.com, Jakarta – Kasus kerumunan wisatawan di sejumlah destinasi wisata menimbulkan pertanyaan terhadap penerapan Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Lingkungan berkelanjutan) (CHSE). Lalu, bagaimana sebenarnya evaluasi untuk memastikan penerapan panduan tersebut di objek wisata?

“Perlu dilakukan evaluasi secara global, baik secara geografi dan demografi. Secara geografi dalam arti bagaimana mereka yang terkait (pariwisata) betul-betul fokus, bagaimana Satgas Covid- 19 dapat melakukan tugasnya dengan baik,” kata Lead Auditor CHSE, I Ketut Sirna, saat dihubungi Liputan6.com, Jumat, 22 Mei 2021.

Secara geografi, lanjut dosen di Universitas Dhyana Pura, Bali ini, harus melihat daerahnya, baik zona merah, zona oranye, zona kuning, dan zona hijau. Lokasi objek wisata harus dikelompokan ke dalam zona-zona tersebut.

“Secara manajemennya dibagi, kemudian direncanakan. Tiap-tiap daerah berapa yang bisa mengevaluasi dari semua daerah itu,” ujar lelaki yang juga Asesor Kompetensi Hotel tersebut.

Sementara, penting untuk setiap individu menyadari cara mencegah transmisi Covid-19. Oleh karena itu, individu harus mengikuti arahan pemerintah.

“Kita sadar diri untuk memakai masker, cuci tangan, memakai hand sanitizer, mengurangi kerumunan, termasuk juga dalam acara-acara penting harus dibatasi. Itu yang kita lihat bahwa sudah melebihi batas, akhirnya satgas (Covid-19) agak kewalahan juga,” kata Sirna.

Terkait kunjungan wisata, khusunya di hotel dan destinasi, Sirna mengatakan, semua kawasan di Bali sudah siap, mulai dari Nusa Penida, Lembongan, Ubud, Nusa Dua, Seminyak, dan Legian. “Masyarakat sudah menyadari tentang pentingnya CHSE,” ujar Sirna.

Sirna mengatakan, kesadaran masyarakat di Bali sudah tumbuh dan berkembang tentang CHSE. Di sana, daerah-daerah yang lembap disemprot dengan disinfektan. “Kebetulan saya yang ikut menangani tentang environment. Saya juga sempat mengunjungi Patrajasa dan di sana sudah menerapkan CHSE,” imbuh Sirna.

Menghindari Laporan Fiktif

Dalam pantauan Sirna, penerapan CHSE di Bali terbilang sudah bagus karena terus dipantau, mulai dari aparat terendah. Saat ada kerumunan, mereka bisa saling mengontak satu sama lain, kemudian menegur maupun membubarkan dengan baik.

Bicara proses, lanjut Sirna, semua sudah ada ketentuan, termasuk juga langkah-langkah pengerjaannya. Kontrol dan evaluasi itu sangat perlu “karena manusia itu ada salahnya.”

“Dari kontrol dan evaluasi itu dapat diketahui pihak-pihak mana saja yang sudah menerapkan CHSE, kalau perlu diidentifikasi ulang, baik secara geografi dan demografi. Selain itu, sudah seberapa besar CHSE diterapkan,” tuturnya.

Karena Indonesia itu sangat luas, bisa saja ada “jalur tikus” dan di Bali itu juga diperhatikan. Secara kasat mata, mungkin penerapan CHSE sudah dianggap aman, tapi faktanya bisa saja berbeda.

“Kalau hanya menunggu report, bisa jadi laporan yang diberikan itu fiktif, tanpa kita terjun mengecek ke lapangan, kita evaluasi dan tindaklanjuti secara langsung. Tapi, kalau kita sudah melihat secara langsung dan mencocokkan dengan laporan, itu akan meminimalisir apa yang tidak diinginkan,” tuturnya.

Pelibatan Masyarakat

Dihubungi secara terpisah, pengamat pariwisata Robert Alexander Moningka mengatakan bahwa hotel maupun lokasi pariwisata sudah menerapkan CHSE dengan baik, termasuk di Bumiayu, Jawa Tengah, yang baru saja ia kunjungi. Namun, CHSE itu baru menyentuh objek wisata yang ramai dikunjungi saja.

“Orang yang beli dagangan di perjalanan itu juga termasuk pariwisata. Orang beli oleh-oleh ketan pencok Bumiayu, serundeng, itu juga pariwisata,” kata lelaki yang akrab disapa Bob ini saat dihubungi Liputan6.com.

Bob menilai, mereka belum disentuh dengan program CHSE. Padahal, tidak ada pariwisata tanpa keterlibatan masyarakat.

“Jangan-jangan saat ditanya apa yang dimaksud CHSE, mereka itu justru enggak tahu. Sekalipun masyarakat dilibatkan dalam CHSE, bisa jadi itu hanya pada pemilik objek wisata saja atau travel agent-nya. Hanya di situ-situ saja, kan. Tapi, tidak sampai ke grassroot-nya,” kata Bob.

Bagi Bob, masyarakat juga perlu dibina terkait CHSE. Jika tidak, mereka akan merasa tidak memiliki parisiwata tersebut. Membeludaknya sejumlah tempat pariwisata baru-baru ini terjadi karena tidak diberi penjelasan tentang CHSE.

“Benarkah sudah memberikan penjelasan pada market tentang apa itu CHSE?” tanya Bob.

Artikel Asli: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4563789/cerita-akhir-pekan-proses-evaluasi-penerapan-chse

logo