Bergerak di Tengah Pandemi, UMKM Harus Beradaptasi

Sektor Parekraf Sebagai Penerima Relaksasi Pajak
May 17, 2020
Lebaran Staycation, Ini Rekomendasi Hotel Syariah di Jakarta
May 18, 2020

Suaramerdeka.com / Modesta Fiska, M Alfi Makhsun / 18 Mei 2020, 00:00 WIB

 

SURAM langkah berbagai sektor usaha di masa pandemi tak boleh menyurutkan inovasi untuk terus bergerak dan beradaptasi dengan perubahan. Saat jatuh dan tiarap ini, semangat untuk bisa bangkit perlu didorong untuk keberlanjutan usaha di masa yang akan datang. Banyak usaha terpaksa gulung tikar, atau dengan kondisi hampir sekarat mengurangi produksi dan juga hari kerjanya hingga merumahkan karyawan hingga waktu yang belum bisa dipastikan. Namun dari semua imbas yang ada ini, tak sedikit pula yang terus berjuang mengalihkan produksinya dan mencari peluang- peluang baru yang dibutuhkan semua kalangan saat pandemi belum juga menunjukkan tanda-tanda berhenti. Dalam Focus Group Discussion (FGD) ”Mencari Terobosan Bagi UMKM dan IKM Pada Masa Pandemi” yang digelar Suara Merdeka secara online via aplikasi Zoom disampaikan bahwa pemerintah tak pernah berhenti berjuang untuk mendukung UMKM menguatkan langkahnya saat ini.

Salah satu pembicara Kepala Balai Pelatihan Koperasi dan UMKM Jateng, Hatta Hatnansya Yunus mengajak seluruh stakeholder untuk ikut membantu mengatasi pandemi Covid-19. Peran UMKM sangatlah penting di masa sekarang walau kondisinya berbeda di masa Covid-19 ini dengan krisis global sebelumnya dimana kelompok ini kuat bertahan. Terdampaknya UMKM ini menurut Hatta bisa diklasifikasikan dalam empat kategori. Pertama UMKM yang masih bisa memproduksi dan menjual, sehingga mereka masih memiliki semangat yang baik untuk menjalankan bisnusnya. Lalu UMKM yang mampu memproduksi tapi tidak bisa menjual. Untuk klasifikasi ini dikatakan Hatta perlu interfensi agar pelaku UMKM bisa memanfaatkan jejaring sosial dan e-commerce. ”Ada juga UMKM yang tidak bisa memproduksi tapi ada pelanggan, ini butuh pembiayaan berupa pinjaman dan sebagainya. Terakhir, UMKM yang sudah tidak bisa apa-apa, untuk yang ini arahnya ke jaring pengaman sosial,” lanjutnya.

Dia juga mengapresiasi ada UMKM yang bisa melihat peluang dengan melakukan diversifikasi produk. Seperti UMKM yang sebelumnya bergerak di bidang fashion, beralih ke produksi masker di masa pandemi ini misalnya. ”Hal itu langkah yang bagus. Minimal dapur bisa mengepul di masa pandemi Covid-19. Pemprov Jateng juga terus bergerak mencari solusi yang baik,” kata Hatta.

Dia menjelaskan, setiap hari pihaknya melakukan pendataan dengan mengerahkan sekitar 108 pendamping UMKM yang melaporkan data UMKM yang terdampak di Jateng sekitar 22.000 UMKM. Dampak Covid-19 paling banyak berimbas pada tenaga kerja di sektor makanan dan minuman, fashion, hingga peternakan. ”Komitmen dari Pemprov Jateng terkait dengan penanganan Covid-19 tidak main-main. Semangat kami tetap ada, karena Sabtu Minggu kami tetap bekerja,” ungkap Hatta. Balai Pelatihan Koperasi dan UMKM Jateng, lanjut Hatta, selama tiga bulan ke depan akan ada pelatihan daring sebanyak 43 kegiatan. Agenda itu akan di-launching resmi oleh Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo di 20 Mei pada saat Hari Kebangkitan Nasional. ”Nanti judul dari Webinar tanggal 20 Mei adalah ‘Kebangkitan UMKM Dimasa Pandemi’. Jadi pas momennya, karena kami juga ingin UMKM bangkit,” imbuhnya.

Sejauh ini Balai Pelatihan Koperasi dan UMKM Jateng bersama Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo kerap melakukan diskusi dengan unicorn yang ada di Indonesia. Ke depan juga akan dirancang aplikasi khusus untuk UMKM. ”Kami juga berharap pelaku UMKM bisa mengikuti perkembangan di website kami dan Instagram Balatkop UMKM Jateng. Di sana pelatihan daring kami akan share,” tandas Hatta.

UMKM Bangkit

Pihaknya juga butuh kolaborasi, sinergitas, kerja sama dengan seluruh stake holder terkait. ”Ini kabar menggembirakan. Pada 20 Mei mendatang akan dicanangkan UMKM bangkit. Kebetulan juga kami memiliki program Suara Merdeka mendukung UMKM. Nanti kami akan dukung, kami akan join dan membantu agar semua berhasil. Ini angin segar bagi semuanya,” kata Pemred Suara Merdeka Gunawan Permadi yang menjadi moderator dalam FGD. Kepala Balai Industri Kreatif Digital dan Kemasan Disperindag Jateng Sukeriyanto menambahkan, terdata jumlah industri kecil mencapai 163.896 dan 2.164 industri menengah. Faktanya banyak pelaku usaha yang ”ndlosor” tersendat pendistribusian baik dari sisi produksi, permodalan hingga pemasaran.

Pelaku usaha ini perlu melakukan diversifikasi produknya dan mengembangkan usaha baru yang saat ini dibutuhkan. Industri kreatif misalnya, banyak konten kreatif yang bisa dikembangkan lalu juga mengubah model bisnis termasuk meningkatkan pemasaran online, menggencarkan marketplace dan terus mengevaluasi penerimaan di masyarakat. Kepala Badan Pusat Statistik Jateng Sentot Bangun Widoyono mengungkapkan, pembatasan manusia yang terjadi saat ini mengakibatkan pola distribusi barang mengalami kendala. UMKM setidaknya harus memperhatikan dua sisi baik dari demand maupun suplai karena ini terkait erat dengan income dari UMKM itu sendiri dan juga akan berpengaruh pada pendapatan pajak bagi pemerintah. Secara finansial, kelompok UMKM ini juga terganggu karena kondisi ketidakpastian yang tidak diketahui sampai kapan pandemi ini akan berakhir.

 

Artikel Asli : https://www.suaramerdeka.com/regional/semarang/229189-bergerak-di-tengah-pandemi-umkm-harus-beradaptasi

logo