Batik Semarang Bermotif Pandemi, Dilirik Sampai Lombok

Pesan Pengusaha Hotel dan Restoran ke Bahlil soal Investasi
January 18, 2021
Kemenparekraf Promosikan Busana Adaptif untuk Penyandang Disabilitas
January 18, 2021

Suaramerdeka.com /Pamungkas Ashadi/18 Januari 2021, 07:45 WIB

IMBAS pandemi virus corona (Covid-19) bukan suatu halangan untuk terus beronovasi. Hal inilah yang dilakukan pemilik Sanggar Batik Mutiara Hasta, Rujiman Slamet. Selama menghadapi pandemi ini ia terus berkreasi hingga menciptakan batik bermotif pandemi Covid-19. Bahkan batik yang diciptakanya dilirik sampai pelanggan di luar Jawa, yaitu daerah Lombok.

Batik yang dibuatnya memang cukup menarik. Motif yang dibuatnya persis menyerupai virus korona yang saat ini menjadi momok di masyarakat. Kata Slamet, kecintaan pada batik memang besar. Terbukti ia bisa memiliki sanggar sendiri di Jalan Rogo Jembangan Timur V, Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang Semarang. Pria asal Jogja itu menceritakan, awal kedatangannya di Semarang pada 2006. Ketika itu ia dipanggil Dinas Perdagangan Jateng untuk mengajar batik di Semarang.

Dari awal kedatangannya hingga sekarang ia menjadi warga Semarang, dia melihat warga belum terlalu familiar dengan batik . Hingga satu tahun berlalu, pada 2007 ia diberi kepercayaan untuk memberi pelatihan di Kampung Rejomulyo. “Sampai saat ini, saya masih diberi kepercayaan untuk mengajar batik di Balai Latihan Kerja di Kota Semarang,” kata Slamet, baru-baru ini.

Menurutnya, pada masa pandemi ini para pengrajin batik terdampak hingga penjualan batik menurun. Lalu ia mulai berfikir untuk mempertahankan bisnisnya. Karena Slamet orang lapangan, yang biasa mengajar membuat batik, akhirnya ia menyulap rumah pribadinya menjadi sanggar batik. Tak hanya berhenti disitu saja, bahkan pihaknya merekrut teman-teman difabel tunarungu. hal itu dilakukan agar batik bisa kembali laris. Akhirnya tercetuslah batik bermotif Covid-19.

“Awalnya, ide yang keluar datang secara tiba-tiba. Namun ide itu langsung dieksekusi. Bahkan saya memiliki banyak teman difabel tunarungu yang tergabung dalam Paguyuban Katun Ungu (Kawula Tunarungu). Ada sekitar 5-7 difabel. Mereka dikumpulkan. Mereka sepakat untuk membuat motif batik Corona,” imbuhnya.

Pasalnya, batik bermotif Covid-19 itu memiliki filosofi, yaitu ia ingin menghilangkan citra virus korona yang menakutkan. Akhirnya, virus yang menakutkan itu dituangkan dalam sebuah karya. Bagi Slamet, virus korona hanyalah sebagai suatu sapaan dari sang pencipta. Adapun hikmah dengan adanya kejadian pandemi ini, kedepanya manusia harus berfikir lebih hati-hati, instropeksi diri.

Slamet mengimbuhkan, di Sanggar Batik Mutiara Hasta tak hanya memproduksi kain batik, namun ia juga lukisan bertema batik Covid-19. Sebab para pelanggan pasti menginginkan kenang-kenangan untuk dipajang di ruang tamunya. “Hingga saat ini produksi batik di sanggar terbilang banyak orderan. Untuk lukisan dengan motif Covid-19, sudah menghasilkan 10 lukisan. Untuk batik kain sekitar 150 lebih. Produksi kain batiknya ada dua jenis, yakni batik cap dan tulis,” jelasnya.

Selain itu, untuk kain batik korona produksinya dikirim sampai Bali dan Lombok. Slamet sadar betul, pandemi Covid-19 jadi pukulan berat bagi para perajin batik. Namun tak serta merta membuatnya menyerah. Justru harus berani bertahan dan berusaha. Jika tidak, maka perajin batik bisa jatuh terpuruk. “Pernah ada orderan dari daerah Nunukan Kalimantan Utara. Di instansi sana order 75 batik cap Corona,” ungkapnya.

Artikel Asli : https://www.suaramerdeka.com/regional/semarang/252499-batik-semarang-bermotif-pandemi-dilirik-sampai-lombok?page=all

logo