Banyak Turis Mager dan Butuh Istirahat, Kini Pariwisata Tidur Semakin Populer

Luhut Ungkap 4 Prioritas Utama Pulihkan Industri Penerbangan Nasional, yang Terakhir Wajib Dilakukan!
October 18, 2022
Pemerintah Tawarkan Pesona Pariwisata Kepri ke Pengusaha Turki
October 19, 2022

Kumparan.com / kumparanTRAVEL/ 19 Oktober 2022, 8:01 WIB

Banyak turis melakukan liburan hanya untuk merasakan suasana tidur yang berbeda dari biasanya. Saat liburan, turis-turis tersebut malas gerak alias mager untuk bepergian ke mana-mana.

Terkadang, turis-turis tersebut hanya membutuhkan suasana yang berbeda dari kehidupan mereka sehari-hari. Melihat hal itu, kini pariwisata tidur semakin populer dari tahun ke tahun.

Peningkatan terhadap jumlah penginapan yang berfokus hanya untuk pariwisata tidur meningkat. Bermunculan di hotel dan resort di seluruh dunia.

Dilansir CNN, permintaan pariwisata tidur meningkat sejak pandemi COVID-19 melanda dunia.

Seorang peneliti tidur dan rekan penulis buku berjudul Sleep for Success!, Rebecca Robbins, mengatakan peningkatan ini sudah lama terjadi terutama di hotel-hotel.

“Ketika sampai pada itu, para turis memesan hotel untuk tidur. Orang sering mengasosiasikan perjalanan dengan makanan mewah, memperpanjang waktu tidur mereka, atraksi, dan hal-hal yang Anda lakukan saat Anda bepergian, benar-benar hampir dengan mengorbankan tidur,” kata Rebecca Robbins.

“Sekarang, saya pikir baru saja terjadi pergeseran seismik besar dalam kesadaran dan prioritas kolektif kita pada kesehatan dan kesejahteraan,” tambahnya.

Pandemi global tampaknya memiliki peran besar dalam hal ini. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Journal of Clinical Sleep Medicine menemukan bahwa 40 persen dari 2.500 orang dewasa melaporkan penurunan kualitas tidur mereka sejak awal pandemi.

Hal senada juga disampaikan oleh ahli hipnoterapi, meditasi, dan pelatih holistik, Malminder Gill.

“Tidak mengherankan jika tidur merupakan aspek penting dalam hidup kita. Kurang tidur dapat menyebabkan banyak masalah berbeda dalam tubuh, dan kesehatan mental Anda. Jadi, kecemasan, depresi, suasana hati yang buruk, perubahan suasana hati segala macam hal, di atas rasa lelah,” ujar Malminder Gill.

Biasanya, kurang tidur diakibatkan karena orang-orang memiliki pikiran untuk begadang demi menyelesaikan sesuatu. Alhasil, jika sudah terlalu lelah, orang tersebut tahu bagaimana pentingnya tidur.

Hal tersebut membuat mereka mencari suasana baru agar tidak terjebak dengan pikiran tersebut.

Tapi, bisakah pengalaman perjalanan yang berfokus pada tidur jangka pendek benar-benar memiliki dampak jangka panjang pada keseluruhan tidur seseorang?

Menurut Rebecca Robbins, biasanya para penyelenggara layanan perjalanan yang menitikberatkan pada strategi untuk memperbaiki kualitas tidur akan menyediakan alat yang dibutuhkan oleh para tamu.

“Jika seseorang datang ke salah satu layanan retret peningkatan kualitas tidur dan tidak melihat kemajuan apa pun, itu bisa jadi karena mereka memiliki gangguan tidur yang tidak diobati,” jelas Rebecca Robbins.

Ketika wisata tidur terus berkembang, sebenarnya masih ada banyak hal yang bisa dieksplorasi mengenai perjalanan dan ilmu pengetahuan tentang tidur untuk membantu para tamu.

Artikel asli : https://kumparan.com/kumparantravel/banyak-turis-mager-dan-butuh-istirahat-kini-pariwisata-tidur-semakin-populer-1z4Vi9SPkuQ/full

logo